iNews Complex – Gelombang kemarahan melanda warga Thailand setelah terungkap bahwa aparat kepolisian menggunakan foto buatan AI untuk menggambarkan operasi penyelamatan banjir. Foto tersebut menampilkan polisi bersenjata lengkap di atas perahu karet, seolah memasuki zona bahaya layaknya misi militer. Namun kenyatan jauh berbeda petugas di lapangan hanya mengenakan rompi oranye tanpa membawa perlengkapan tempur sama sekali. Momen ini memicu pertanyaan besar: mengapa situasi genting seperti bencana banjir justru ditampilkan dengan visual manipulatif? Di tengah kepanikan warga yang kehilangan rumah dan akses jalan, publik merasa langkah polisi ini justru mengaburkan kebenaran saat mereka paling membutuhkan informasi akurat.
Gambar AI yang Memicu Kecurigaan
Gambar buatan AI itu dipublikasikan oleh Unit Polisi Patroli Perbatasan ke-437 melalui Facebook. Dalam foto, aparat terlihat gagah dengan helm taktis, rompi antipeluru, dan senjata otomatis. Banyak warga awalnya menyangka aparat sedang memasuki wilayah konflik, bukan kawasan banjir. Namun kecurigaan mulai muncul ketika gambar terlihat terlalu “sempurna.” Caption yang disertai emoji tertawa justru memperkeruh suasana. Di tengah tragedi, publik merasa polisi tidak menunjukkan sensitivitas. Foto itu akhirnya viral, bukan karena aksi heroik, melainkan karena gaya yang dinilai tak sesuai dengan situasi genting yang sebenarnya.
“Baca Juga : Banjir Maut Asia Tenggara: Indonesia, Thailand, Malaysia Lumpuh dan Puluhan Tewas”
Terbongkar lewat Teknologi Deteksi AI
Kebenaran mulai terungkap ketika tim pemeriksa fakta AFP menggunakan alat pendeteksi SynthID milik Google. Alat ini menemukan watermark digital berbentuk bintang Gemini penanda bahwa gambar tersebut dibuat oleh perangkat lunak AI. Dengan temuan itu, publik akhirnya mengetahui bahwa foto tersebut tidak mencerminkan kondisi nyata. Setelah mendapat kritik luas, unit polisi mempublikasikan foto asli. Di sana terlihat para petugas hanya mengenakan pelampung oranye dan tidak membawa peralatan militer. Langkah mereka untuk meminta maaf memang meredakan sebagian ketegangan, namun rasa kecewa publik sulit untuk benar-benar lenyap.
Permintaan Maaf yang Diterbitkan
Setelah kontroversi semakin besar, unit polisi mengunggah pernyataan resmi yang menyertakan foto asli dan ucapan permintaan maaf. “Ini gambar asli sebelum dibuat menjadi gambar AI,” tulis mereka. Mereka menegaskan tidak ada maksud menyesatkan publik dan hanya ingin menunjukkan kesiapan tim dalam menghadapi banjir. Meski demikian, penjelasan itu belum cukup bagi banyak warga. Di tengah situasi bencana yang terus memburuk, publik merasa instansi seharusnya mengutamakan kejujuran, bukan tampilan heroik. Terlebih, manipulasi visual semacam ini dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat saat krisis.
Tidak Ada Sanksi untuk Pelaku internal
Dalam wawancara kepada AFP, perwakilan unit polisi menyebutkan bahwa tidak ada personel yang diberi sanksi atas insiden tersebut. Mereka mengklaim foto AI dibuat secara internal tanpa niat buruk, dan hanya sebagai materi ilustratif. Pernyataan ini memicu komentar baru di media sosial. Banyak warga berpendapat bahwa ketiadaan sanksi dapat membuka peluang kesalahan serupa terulang. Situasi semakin sensitif karena banjir di Thailand selatan telah menewaskan puluhan orang. Publik menuntut transparansi, apalagi ketika aparat menjadi garda depan dalam upaya penyelamatan warga yang terdampak.
“Simak Juga : Larry Page Geser Larry Ellison, Resmi Jadi Orang Terkaya Kedua di Dunia”
Manipulasi Visual di Tengah Bencana
Kontroversi ini terjadi pada saat publik Thailand tengah dibayangi ketidakpastian akibat banjir besar. Sebelumnya, beredar video yang memperdengarkan suara tembakan di kawasan banjir Hat Yai, memicu kepanikan tambahan. Foto manipulatif dari polisi diduga muncul sebagai respons atas kecemasan publik mengenai keamanan relawan dan aparat di lapangan. Namun alih-alih menenangkan, foto tersebut justru menciptakan lebih banyak keraguan. Di tengah bencana, visualisasi kondisi lapangan seharusnya akurat agar masyarakat bisa memahami risiko dan mengikuti instruksi evakuasi dengan benar.
Dampak pada Kepercayaan Publik
Insiden penggunaan foto AI ini menjadi pengingat bahwa teknologi, meski bermanfaat, dapat menimbulkan masalah jika digunakan secara sembarangan. Dalam konteks bencana, kepercayaan publik terhadap aparat adalah fondasi penting. Ketika foto manipulatif digunakan tanpa penjelasan, publik merasa dikhianati, terutama mereka yang sedang berjuang menyelamatkan keluarga dan harta benda. Banyak warganet berharap insiden ini membuat aparat lebih berhati-hati dalam menggunakan teknologi visual. Di atas segalanya, mereka menuntut hal paling mendasar: transparansi dan empati di tengah situasi yang sudah sangat sulit.