Inews Complex – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan setelah mengirimkan surat kontroversial kepada Perdana Menteri Norwegia tentang Greenland. Surat tersebut memicu reaksi keras dari banyak pihak dan menghidupkan kembali pembahasan mengenai penggunaan Amandemen ke-25. Amandemen ini memungkinkan pelengseran presiden tanpa pemakzulan. Namun, penerapannya terhadap Trump menghadapi banyak tantangan, baik secara hukum maupun politik.
Bagaimana Amandemen ke-25 Bekerja?
Amandemen ke-25 disahkan pada 1967 setelah kematian Presiden John F. Kennedy. Amandemen ini memiliki empat bagian, yang salah satunya memungkinkan Wakil Presiden dan mayoritas kabinet menyatakan bahwa presiden tidak mampu menjalankan tugas. Dalam hal ini, Wakil Presiden akan mengambil alih kekuasaan sementara. Kongres kemudian memiliki 21 hari untuk memutuskan apakah presiden harus tetap menjabat atau tidak.
Trump dan Amandemen ke-25
Surat Trump kepada PM Norwegia yang berisi komentar kontroversial tentang Greenland memicu debat di kalangan politisi dan masyarakat. Beberapa anggota Demokrat menyarankan agar Amandemen ke-25 diterapkan, dengan alasan bahwa Trump dianggap tidak lagi mampu menjalankan tugas dengan bijak. Beberapa tokoh mengungkapkan kekhawatiran terkait kondisi mental Trump yang dapat membahayakan negara.
Tantangan dalam Menerapkan Amandemen ke-25 pada Trump
Penerapan Amandemen ke-25 pada Trump mendapat tantangan besar dari sisi politik. Para ahli hukum menyatakan bahwa Amandemen ini lebih ditujukan untuk presiden yang tidak mampu secara fisik atau medis. Dalam hal ini, Trump tidak menderita gangguan medis yang cukup parah untuk membuatnya tidak dapat menjalankan tugasnya. Oleh karena itu, tantangan politik yang dihadapi untuk menggulingkan Trump melalui Amandemen ke-25 sangat besar.
Dinamika Politik dalam Penerapan Amandemen ke-25
Proses ini membutuhkan persetujuan dari mayoritas kabinet dan Wakil Presiden. Namun, situasi politik yang terpolarisasi membuat hal ini menjadi sangat sulit. Meskipun beberapa anggota Kongres mendukung penerapan Amandemen ke-25, banyak pihak yang berpendapat bahwa ini lebih merupakan masalah politik daripada medis. Hal ini membuat penerapan Amandemen ke-25 pada Trump semakin kompleks.
“Baca Juga : Windows Bermasalah Usai Update, Microsoft Rilis Patch Darurat”
Surat Trump yang Memicu Kontroversi
Dalam surat kepada PM Norwegia, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat membutuhkan “kontrol penuh dan total” atas Greenland. Surat tersebut mengungkapkan ketidakpuasan Trump terhadap kegagalannya meraih Nobel Perdamaian. Beberapa tokoh politik menganggap pernyataan tersebut menunjukkan sikap yang tidak bijaksana, sehingga memicu kekhawatiran tentang kemampuan Trump dalam memimpin negara.
Pemakzulan vs. Amandemen ke-25: Mana yang Lebih Mungkin?
Proses pemakzulan memerlukan bukti pelanggaran hukum yang serius, sementara Amandemen ke-25 memungkinkan pelengseran presiden tanpa proses hukum panjang. Namun, Amandemen ke-25 juga menghadapi tantangan besar, terutama di ranah politik. Meskipun keduanya bisa digunakan untuk menggulingkan seorang presiden, Amandemen ke-25 lebih cepat diterapkan, tetapi tetap membutuhkan persetujuan dari banyak pihak.