Inews Complex – Isu pembelian jet tempur Su-57 oleh Aljazair tiba-tiba menjadi percikan baru dalam hubungan internasional, dan Amerika Serikat terlihat tidak menyembunyikan kekesalannya. Meski pembelian senjata adalah hak negara berdaulat, Washington menilai langkah ini sebagai sinyal yang berbahaya, terutama di tengah upaya Barat menekan pengaruh militer Rusia. Selain itu, Su-57 bukan sekadar pesawat tempur biasa, melainkan simbol kekuatan teknologi Rusia yang ingin terus dipamerkan. Karena itulah, kemunculan Aljazair sebagai pembeli asing pertama langsung mencuri perhatian. Di balik berita ini, ada ketegangan yang lebih besar: perang pengaruh, perebutan aliansi, dan perebutan dominasi industri persenjataan global yang terus bergerak diam-diam.
Sidang Senat AS Mengungkap Wacana Sanksi
Yang membuat situasi ini semakin serius adalah fakta bahwa isu sanksi terhadap Aljazair dibahas dalam sidang resmi di Senat Amerika Serikat. Robert Palladino, pejabat Departemen Luar Negeri AS untuk urusan Timur Dekat, mengakui bahwa pemerintah mengetahui laporan pembelian Su-57 dan menganggapnya mengkhawatirkan. Ia juga menegaskan bahwa AS akan terus memantau situasi ini dengan saksama. Menariknya, pembahasan lebih lanjut disebut akan dilakukan dalam sesi tertutup, yang biasanya berarti ada pertimbangan strategis lebih dalam. Di titik ini, publik melihat satu pesan yang jelas: Washington ingin memberi tekanan, namun tetap menjaga ruang diplomasi. Saya pribadi melihat ini sebagai gaya klasik AS, yaitu memberi sinyal keras di ruang publik, lalu mengunci detailnya dalam perundingan tertutup.
“Baca Juga : Perjanjian Nuklir Rusia-AS Berakhir dan Dunia Mendadak Terasa Lebih Rapuh“
Diplomasi Diam-Diam yang Kini Terbuka ke Publik
Dalam pernyataannya, Palladino juga menyinggung bahwa AS sebenarnya sudah berupaya mencegah Aljazair membeli alutsista Rusia lewat jalur diplomatik. Ini menarik, karena menunjukkan bahwa tekanan itu tidak baru, hanya saja kini mencuat ke permukaan. Di satu sisi, AS mengakui tetap bekerja sama dengan Aljazair dalam isu-isu yang dianggap penting bersama. Namun di sisi lain, AS menyebut pembelian senjata Rusia sebagai tindakan yang tidak bisa diterima. Dengan kata lain, hubungan kedua negara berada di zona abu-abu: tidak putus, tetapi juga tidak sepenuhnya harmonis. Selain itu, kalimat “diplomasi sering kali dilakukan secara tertutup” memberi gambaran bahwa perang pengaruh sebenarnya berlangsung jauh sebelum publik mendengarnya.
Aljazair Jadi Pembeli Asing Pertama Su-57
Aljazair disebut mengonfirmasi pembelian Su-57E generasi kelima pada Februari 2025, dan pengumuman itu disiarkan lewat televisi pemerintah. Detail ini penting, karena menunjukkan Aljazair tidak sekadar membeli diam-diam, melainkan juga berani menampilkan pilihan militernya secara terbuka. Selain itu, langkah ini menempatkan Aljazair sebagai pelanggan internasional pertama bagi Su-57, yang selama ini masih sering dibandingkan dengan jet tempur siluman Barat seperti F-35. Di sisi lain, Angkatan Udara Aljazair memang sudah lama menggunakan jet buatan Rusia, sehingga pembelian Su-57 bisa dilihat sebagai kelanjutan hubungan pertahanan yang sudah terjalin bertahun-tahun. Namun tetap saja, memilih Su-57 di era tekanan global seperti sekarang adalah keputusan yang membawa konsekuensi politik yang tidak kecil.
“Baca Juga : AS Tuduh China Raup Untung Besar dari Minyak Venezuela Saat Maduro Berkuasa“
Mengapa AS Sangat Khawatir dengan Su-57
Bagi publik, mungkin terlihat sederhana: sebuah negara membeli pesawat tempur. Namun bagi Washington, Su-57 adalah bagian dari pertarungan pengaruh yang lebih besar. Su-57 membawa nilai strategis, karena teknologi siluman, kemampuan manuver, serta simbol bahwa Rusia masih bisa menawarkan “kelas premium” dalam pasar senjata. Selain itu, AS khawatir pembelian ini menjadi contoh bagi negara lain yang sedang mempertimbangkan diversifikasi alutsista. Jika tren ini meluas, dominasi AS dalam pasar senjata bisa terganggu. Karena itulah, ancaman sanksi sering digunakan sebagai peringatan agar negara lain berpikir dua kali. Menurut saya, AS tidak hanya marah karena pesawatnya “tidak dipilih”, tetapi karena efek domino yang bisa muncul setelah keputusan Aljazair.
India Memilih Jalur Berbeda, Rusia Tetap Menawarkan
Menariknya, pada saat Aljazair mengambil Su-57, India justru memilih fokus mengembangkan jet siluman sendiri, AMCA. Padahal Rusia dilaporkan menawarkan kerja sama termasuk transfer teknologi dan kemungkinan produksi lokal. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap negara punya strategi berbeda dalam menghadapi tekanan geopolitik. India, misalnya, memilih membangun kemandirian pertahanan jangka panjang. Sementara itu, Aljazair tampaknya memilih langkah yang lebih praktis: membeli sistem siap pakai yang dianggap menguntungkan dari sisi kemampuan militer. Selain itu, pilihan India memberi pesan bahwa membeli Su-57 bukan satu-satunya jalan untuk memiliki teknologi generasi kelima. Dalam konteks ini, pembelian Aljazair terasa semakin “berani” karena dilakukan ketika banyak negara lain justru mengambil posisi lebih aman.
Ancaman Sanksi dan Dampaknya bagi Stabilitas Kawasan
Jika AS benar-benar menjatuhkan sanksi, dampaknya tidak akan berhenti pada hubungan Washington–Aljazair saja. Sanksi bisa memengaruhi kerja sama ekonomi, akses teknologi, bahkan perbankan internasional. Selain itu, Afrika Utara adalah kawasan sensitif, karena berada dekat Eropa, Timur Tengah, dan jalur perdagangan penting. Di sisi lain, Aljazair juga memiliki posisi strategis dalam isu energi, terutama bagi negara-negara Eropa yang sering mencari diversifikasi pasokan. Karena itu, langkah AS harus dihitung dengan sangat hati-hati. Saya melihat ini sebagai permainan catur geopolitik: setiap langkah memiliki efek berantai, dan kesalahan kecil bisa memicu ketegangan baru. Dengan kata lain, pembelian satu jet tempur kini berubah menjadi ujian besar bagi diplomasi global.
Su-57 Bukan Sekadar Pesawat, Tapi Simbol Arah Politik
Pada akhirnya, Su-57 tidak hanya bicara soal kemampuan tempur, tetapi juga soal pesan politik. Aljazair seolah mengatakan bahwa mereka tetap bebas menentukan mitra pertahanan, bahkan ketika tekanan dari AS meningkat. Sementara itu, AS mengirim sinyal bahwa pembelian senjata Rusia di era sekarang bukan keputusan netral, melainkan tindakan yang bisa memicu konsekuensi. Selain itu, Rusia tentu akan memanfaatkan situasi ini untuk menunjukkan bahwa mereka masih mampu menjual teknologi canggih ke luar negeri. Dalam situasi seperti ini, publik sering hanya melihat permukaan, padahal yang bergerak adalah perebutan pengaruh global. Menurut saya, inilah jenis berita yang terlihat “militer”, tetapi sebenarnya sangat politis dan menentukan arah dunia dalam beberapa tahun ke depan.