Inews Complex – Indonesia kembali mencuri perhatian dunia, kali ini bukan lewat diplomasi atau ekonomi, melainkan melalui langkah pertahanan yang tidak biasa. Pada 11 Februari 2026, TNI AU menguji pendaratan dan lepas landas jet tempur di ruas Tol Trans-Sumatra. Peristiwa ini langsung ramai diberitakan media asing seperti AFP, CNN, hingga AeroTime. Banyak yang menilai uji coba tersebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan nasional, terutama ketika pangkalan udara utama berada dalam ancaman. Selain itu, pendekatan ini dianggap unik karena memaksimalkan infrastruktur sipil untuk kebutuhan militer. Di balik berita yang viral itu, ada pesan penting: Indonesia sedang menyiapkan rencana cadangan yang serius. Dan bagi publik, momen ini terasa seperti adegan film, karena jalan tol yang biasanya dipenuhi kendaraan, mendadak berubah menjadi panggung bagi jet tempur.
AFP Menilai Ini Strategi Cadangan Jika Pangkalan Udara Diserang
Kantor berita Perancis, Agence France-Presse (AFP), menyoroti uji coba ini sebagai langkah pertahanan yang memiliki logika kuat. Dalam laporannya, AFP menekankan bahwa penggunaan jalan tol sebagai runway darurat bisa menjadi alternatif penting jika pangkalan militer diserang dan lumpuh. Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto bahkan menyebut uji coba tersebut sebagai “good milestone,” atau tonggak penting yang baik. Selain itu, ia menegaskan bahwa rencana pembangunan jalan yang bisa berfungsi ganda sudah tersedia. Di sisi lain, AFP juga menampilkan pernyataan Kepala Staf TNI AU Marsekal Mohamad Tonny Harjono yang menekankan sifatnya hanya sementara dan situasional. Artinya, jalan tol tidak akan digunakan terus-menerus, melainkan hanya ketika kondisi mendesak. Narasi AFP membuat uji coba ini terlihat bukan sebagai sensasi, tetapi sebagai perencanaan.
“Baca Juga : Gedung Hunian Ambruk di Lebanon, Setidaknya 15 Orang Tewas“
AeroTime Mengangkat Ambisi Besar, Tapi Juga Menyoroti Tantangan Teknis
Media aviasi AeroTime memandang uji coba ini dari sisi yang lebih teknis. Mereka menulis bahwa Indonesia sedang mencoba mengubah jalan raya menjadi runway darurat, bahkan disebut sebagai alternatif ide “kapal induk” dalam konteks fleksibilitas operasi udara. Namun, AeroTime juga menyoroti tantangan yang tidak kecil. Jalan tol yang digunakan hanya selebar 24 meter, sementara landasan bandara standar biasanya berada di kisaran 45 hingga 60 meter. Dengan kata lain, pilot harus bekerja jauh lebih presisi dibanding mendarat di runway normal. Selain itu, kondisi permukaan jalan, marka, serta hambatan visual di sekitar tol juga menjadi faktor yang tidak bisa disepelekan. Meski begitu, AeroTime mengakui bahwa uji coba ini menunjukkan kemampuan pilot TNI AU yang sangat tinggi. Dari sudut pandang internasional, ini bukan hanya soal strategi, tetapi juga soal kemampuan eksekusi.
F-16 dan Super Tucano Jadi Bintang di Jalan Tol Lampung
Uji coba yang dilakukan TNI AU melibatkan dua jenis pesawat, yaitu jet tempur F-16 dan EMB-314 Super Tucano. Keduanya melakukan pendaratan dan lepas landas di ruas Terpeka Tol Trans-Sumatra di Lampung. Ini disebut sebagai pertama kalinya jet tempur menggunakan jalan tol Indonesia sebagai landasan. Selain itu, pilihan pesawat ini juga menarik. F-16 mewakili kekuatan tempur utama, sementara Super Tucano dikenal sebagai pesawat serang ringan yang sering digunakan untuk misi taktis. Kombinasi ini seperti menunjukkan bahwa konsep runway darurat tidak hanya untuk satu jenis operasi, tetapi bisa fleksibel. Bagi publik, momen itu juga memiliki efek emosional. Bayangkan, jalan tol yang biasanya hanya jadi tempat orang buru-buru pulang, mendadak menjadi ruang latihan militer. Ada rasa bangga, tetapi juga rasa kagum karena hal seperti ini jarang terjadi.
“Baca Juga : Perjanjian Nuklir Rusia-AS Berakhir dan Dunia Mendadak Terasa Lebih Rapuh“
Konsep Jalan Tol sebagai Runway Darurat Bukan Hal Baru, Tapi Tetap Mengejutkan
Sebenarnya, konsep menggunakan jalan raya sebagai landasan darurat bukan hal baru di dunia militer. Beberapa negara Eropa dan Asia sudah memiliki konsep “highway strip” untuk kondisi perang atau darurat. Namun, ketika Indonesia melakukan hal serupa, dunia tetap terkejut. Alasannya sederhana: Indonesia adalah negara kepulauan, sehingga strategi pertahanan biasanya lebih banyak dikaitkan dengan laut dan pangkalan udara tetap. Karena itu, penggunaan tol sebagai runway memberi sinyal bahwa Indonesia sedang memperluas opsi. Selain itu, ini juga menunjukkan pemikiran yang lebih adaptif. Dalam situasi konflik, fleksibilitas adalah kunci. Jika pangkalan utama tidak bisa dipakai, pesawat tetap harus punya tempat untuk beroperasi. Dengan begitu, jalan tol bukan lagi hanya simbol pembangunan ekonomi, tetapi juga bisa menjadi bagian dari pertahanan nasional.
Modernisasi Militer Prabowo Ikut Menjadi Latar yang Ditekankan Media Asing
AFP juga mengaitkan kebijakan ini dengan modernisasi militer di bawah Presiden Prabowo Subianto. Salah satu sorotan adalah kedatangan tiga jet tempur Rafale buatan Perancis sebagai bagian dari kesepakatan pembelian 42 unit. Nilainya tidak kecil, yaitu 8,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 136 triliun. Media asing melihat langkah uji tol ini sejalan dengan arah modernisasi tersebut. Selain itu, uji coba runway darurat memberi kesan bahwa Indonesia tidak hanya membeli alutsista, tetapi juga memikirkan sistem pendukungnya. Dalam pertahanan, pesawat canggih tanpa strategi operasi yang fleksibel tetap bisa kalah. Karena itu, uji coba ini terasa seperti bagian dari puzzle besar. Dan bagi dunia, Indonesia tampak sedang bergerak menuju model pertahanan yang lebih matang, meski tentu masih banyak tantangan yang harus dihadapi.