Inews Complex – Perundingan kedua Iran dan Amerika Serikat akhirnya selesai, dan hasilnya langsung memancing perhatian dunia. Iran mengklaim ada banyak kesepahaman penting yang mulai terbentuk, meski pembicaraan dilakukan secara tidak langsung di Jenewa. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa kedua pihak telah menyepakati prinsip-prinsip panduan utama terkait program nuklir Teheran. Namun, ia juga mengakui pekerjaan besar masih menunggu, terutama soal detail teknis yang selama ini menjadi sumber ketegangan. Di sisi lain, publik internasional melihat momen ini sebagai napas baru di tengah hubungan yang lama membeku. Karena itu, pertemuan ini terasa lebih dari sekadar negosiasi, melainkan ujian kepercayaan, kesabaran, dan keberanian politik dari dua negara yang saling curiga.
Jenewa Jadi Panggung Diplomasi yang Penuh Tekanan
Jenewa kembali membuktikan diri sebagai kota yang sering menjadi saksi diplomasi paling rumit. Kali ini, pembicaraan Iran-AS berlangsung dalam suasana yang penuh tekanan, karena isu nuklir selalu membawa bayang-bayang krisis global. Meski perundingan berjalan tidak langsung, artinya kedua pihak tidak duduk satu meja, prosesnya tetap intens. Bahkan, setiap kalimat yang keluar dari delegasi bisa mengubah arah pasar, geopolitik, hingga keamanan kawasan. Selain itu, tekanan juga datang dari publik dalam negeri masing-masing negara, yang menuntut hasil nyata. Sementara itu, dunia internasional menunggu tanda-tanda stabilitas baru. Karena alasan itu, Jenewa bukan sekadar lokasi pertemuan, melainkan ruang psikologis yang memaksa para negosiator mengukur kata, membaca situasi, dan memilih langkah paling aman tanpa terlihat lemah.
“Baca Juga : Gedung Hunian Ambruk di Lebanon, Setidaknya 15 Orang Tewas“
Iran Mengklaim Ada Prinsip Panduan yang Disepakati
Iran menyampaikan klaim penting: mereka telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip panduan utama terkait program nuklir. Klaim ini terdengar sederhana, tetapi maknanya besar. Prinsip panduan biasanya menjadi fondasi sebelum perundingan masuk ke tahap teknis, seperti batas pengayaan uranium, mekanisme inspeksi, hingga jadwal implementasi. Karena itu, pernyataan Araghchi memberi sinyal bahwa pembicaraan tidak lagi hanya berputar pada perdebatan dasar. Meski begitu, Iran tetap berhati-hati dalam memilih kata. Ia menegaskan masih ada pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Dengan kata lain, kesepahaman ini lebih mirip “kerangka” daripada kesepakatan final. Namun tetap saja, kerangka itu penting karena menunjukkan kedua pihak setidaknya sepakat tentang arah, meski belum sepakat tentang jalan.
Oman Muncul sebagai Mediator yang Mencari Titik Temu
Dalam perundingan ini, peran Oman terasa sangat menentukan. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, tampil sebagai mediator yang menenangkan sekaligus menjembatani kepentingan yang saling bertabrakan. Ia mengonfirmasi adanya perkembangan positif dan menyebut negosiasi berakhir dengan kemajuan dalam mengidentifikasi tujuan bersama. Ini bukan pernyataan biasa, karena “tujuan bersama” sering kali sulit ditemukan dalam hubungan Iran-AS. Selain itu, Oman dikenal memiliki posisi diplomatik yang relatif netral, sehingga dipercaya oleh kedua pihak. Di tengah ketegangan kawasan Timur Tengah, negara kecil seperti Oman justru sering menjadi jembatan yang efektif. Karena itu, peran mediator bukan hanya teknis, tetapi juga emosional: menahan ego, menurunkan suhu, dan memberi ruang bagi kedua pihak untuk mundur selangkah tanpa kehilangan muka.
“Baca Juga : Perjanjian Nuklir Rusia-AS Berakhir dan Dunia Mendadak Terasa Lebih Rapuh“
AS Mengakui Ada Kemajuan, Tapi Detail Masih Rumit
Dari sisi Amerika Serikat, seorang pejabat mengakui bahwa kemajuan telah dicapai. Namun, ia juga menekankan masih banyak detail yang perlu dibahas. Pernyataan ini penting karena menunjukkan Washington tidak menutup pintu, tetapi juga tidak ingin terlihat terlalu cepat puas. Selain itu, pejabat tersebut menyebut Iran akan kembali dalam dua minggu dengan proposal terperinci untuk menutup celah yang masih ada. Di sinilah bagian paling sulit biasanya dimulai. Dalam negosiasi nuklir, detail bisa menjadi ranjau. Satu angka pengayaan, satu frasa tentang inspeksi, atau satu jadwal pencabutan sanksi bisa memicu kebuntuan baru. Karena itu, meski ada kemajuan, jalannya masih panjang. Dunia pun memahami bahwa diplomasi tidak bergerak seperti berita cepat, melainkan seperti puzzle yang harus disusun dengan hati-hati.
Iran Fokus Cabut Sanksi, AS Dorong Isu Rudal Balistik
Perbedaan kepentingan terlihat jelas sejak awal. Iran menegaskan fokus utama mereka adalah pencabutan sanksi ekonomi Amerika Serikat. Bagi Teheran, sanksi bukan sekadar tekanan politik, tetapi luka ekonomi yang memengaruhi kehidupan warga. Karena itu, Iran ingin hasil yang bisa dirasakan langsung. Namun, Washington memberi sinyal ingin memperluas pembahasan hingga isu pengembangan rudal balistik. Di sinilah ketegangan klasik muncul. Iran cenderung menganggap rudal sebagai bagian dari pertahanan nasional, sementara AS dan sekutunya melihatnya sebagai ancaman regional. Selain itu, kedua isu ini memiliki “nilai emosional” yang berbeda bagi publik masing-masing negara. Akibatnya, perundingan tidak hanya soal diplomasi, tetapi juga soal bagaimana pemerintah menjual hasilnya kepada rakyat. Dengan begitu, negosiasi menjadi permainan keseimbangan antara kepentingan strategis dan tekanan domestik.