Inews Complex – Israel kini memasuki fase baru dalam eskalasi konflik dengan Lebanon. Setelah berbulan-bulan ketegangan di perbatasan utara, militer Israel, yang dikenal dengan nama Israel Defense Forces (IDF), resmi melancarkan operasi darat di Lebanon. Langkah ini diambil untuk menghadapi ancaman yang semakin meningkat, khususnya dari kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran. Serangan yang terjadi sejak awal bulan Maret 2026 ini menandai babak baru yang sangat mengkhawatirkan dalam ketegangan regional yang terus meningkat.
Menteri Pertahanan Israel Mengonfirmasi Langkah Militer Besar-Besaran
Dalam konferensi pers pada Senin, 16 Maret 2026, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa IDF telah melancarkan operasi darat untuk melenyapkan ancaman yang dianggap membahayakan wilayah utara Israel, termasuk Galilea. Langkah ini dianggap perlu setelah meningkatnya serangan roket dan drone dari Hizbullah. Katz juga menegaskan bahwa operasi ini dilakukan untuk melindungi penduduk Israel dan mengamankan perbatasan utara yang semakin terancam.
“Baca Juga : MBS Desak Trump Perangi Pengaruh Iran di Timur Tengah“
Serangan Balasan: Israel Serang Ratusan Target Hizbullah
Operasi darat ini mengikuti serangkaian serangan udara yang telah dilancarkan oleh Israel terhadap ratusan target milik Hizbullah di Lebanon Selatan. Sejak awal Maret 2026, Hizbullah telah menembakkan lebih dari 1.000 roket dan drone ke wilayah Israel, yang menyebabkan kerusakan besar dan mengancam keselamatan warga. Militer Israel mengklaim bahwa serangan mereka telah mengenai fasilitas militer penting yang dikuasai oleh Hizbullah. Meski begitu, upaya ini tampaknya belum mampu meredakan eskalasi yang terus berkembang.
Lebanon Menghadapi Dampak Serangan Besar-Besaran
Serangan Israel di Lebanon tidak hanya mempengaruhi kelompok militan Hizbullah, tetapi juga menyebabkan dampak besar bagi penduduk sipil di Lebanon Selatan. Untuk itu, pemerintah Israel memerintahkan evakuasi skala besar bagi warga yang tinggal di daerah-daerah yang dianggap berisiko tinggi. Meskipun evakuasi ini dimaksudkan untuk melindungi nyawa warga sipil, langkah ini memperburuk situasi kemanusiaan di daerah yang sudah dilanda ketegangan.
“Baca Juga : Irak Terseret Konflik Iran-Amerika, Kedutaan Besar AS di Baghdad Diserang Drone“
Upaya Diplomatik Muncul di Tengah Ketegangan
Di tengah memanasnya situasi militer, terdapat upaya diplomatik yang berusaha meredakan ketegangan. Pejabat dari Lebanon dan Perancis mengungkapkan bahwa pihak Lebanon telah menyatakan kesiapan mereka untuk membuka pembicaraan dengan Israel. Hal ini menjadi momen langka dalam hubungan kedua negara yang selama ini terjalin sangat tegang. Pemerintah Perancis disebut-sebut siap bertindak sebagai mediator dalam upaya untuk mencapai perdamaian dan meredakan ketegangan yang sudah berlangsung lama.
Perancis Sebagai Mediator dalam Dialog Israel-Lebanon
Perancis memainkan peran penting dalam upaya diplomatik ini. Dengan sejarah panjang keterlibatannya di kawasan Timur Tengah, Perancis dipercaya dapat memfasilitasi dialog antara Israel dan Lebanon. Meskipun tidak ada jaminan bahwa pembicaraan ini akan berhasil, langkah ini merupakan perkembangan yang sangat positif di tengah kekerasan yang terus berlangsung. Pihak Perancis sendiri berharap bahwa dialog dapat mengarah pada penyelesaian yang lebih damai dan berkelanjutan.
Ancaman Lain: Iran Dukung Hizbullah dengan Pengiriman Senjata
Konflik ini juga dipengaruhi oleh peran Iran, yang diketahui mendukung Hizbullah dengan berbagai jenis persenjataan. Iran telah menyediakan roket, drone, dan senjata canggih lainnya yang digunakan oleh Hizbullah untuk menyerang Israel. Menurut laporan terbaru, Iran bahkan diketahui mengirimkan pasokan drone Shahed, yang memiliki kemampuan untuk menyerang sasaran dengan presisi tinggi. Dukungan Iran ini membuat konflik semakin kompleks dan menambah ketegangan di kawasan tersebut.