Inews Complex – Militer Amerika Serikat memasuki fase perubahan besar setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengonfirmasi pengurangan sekitar 20 persen posisi jenderal dan laksamana. Ia menyampaikan kebijakan tersebut dalam pidato “State of the Force” di Marine Corps Base Quantico, Virginia, pada 30 September 2026. Hegseth menggambarkan langkah itu sebagai upaya meningkatkan akuntabilitas sekaligus menyederhanakan struktur kepemimpinan militer. Menurutnya, sekitar 10 persen posisi telah berkurang, kemudian Pentagon menargetkan tambahan pengurangan 10 persen. Namun, kebijakan tersebut tidak selalu berarti memberhentikan setiap perwira yang menduduki jabatan terkait. Sejumlah posisi dapat dihapus, digabungkan, atau nantinya ditempati perwira dengan pangkat lebih rendah. Kebijakan ini melanjutkan restrukturisasi yang sudah Hegseth dorong sejak tahun sebelumnya. Di tengah perubahan tersebut, Pentagon menghadapi tantangan untuk menjaga pengalaman kepemimpinan sekaligus menjalankan visi baru mengenai struktur militer yang lebih ramping dan berorientasi pada kesiapan tempur.
Pete Hegseth Menyebut Pemangkasan sebagai Bentuk Akuntabilitas
Hegseth tidak menggambarkan pengurangan tersebut sebagai sekadar efisiensi administratif. Dalam pidatonya, ia menghubungkan kebijakan itu dengan pandangannya mengenai tanggung jawab para pemimpin militer. Menurut Hegseth, perubahan pada jajaran perwira tinggi sudah lama diperlukan. Ia juga menolak karakterisasi sebagian pengkritik yang menyebut rangkaian perubahan kepemimpinan sebagai sebuah “pembersihan”. Sebaliknya, ia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk akuntabilitas. Pandangan itu sejalan dengan agenda yang ia dorong sejak memimpin Pentagon, yakni mengurangi birokrasi dan mengarahkan perhatian militer pada kesiapan menghadapi konflik. Namun, restrukturisasi dalam skala besar turut memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kesinambungan kepemimpinan. Beberapa pihak di Kongres dan mantan pejabat pertahanan telah menyuarakan kekhawatiran bahwa perubahan terlalu cepat dapat mengurangi jumlah perwira berpengalaman untuk mengisi komando senior pada masa mendatang. Dengan demikian, perdebatan tidak hanya menyangkut jumlah posisi, tetapi juga kebutuhan mempertahankan pengalaman institusional.
Baca Juga : Arab Saudi Mendadak Tutup Sekolah Sepekan, Ketegangan Teluk Jadi Sorotan
Standar Fisik Kembali Mendapat Penekanan dalam Pidato Hegseth
Selain membicarakan struktur kepemimpinan, Hegseth kembali menempatkan kebugaran dan penampilan personel sebagai bagian dari visinya mengenai militer. Dalam pidatonya, ia menggunakan bahasa keras ketika menggambarkan standar yang menurutnya harus berlaku bagi angkatan bersenjata. Hegseth menyatakan tidak ingin personel yang tidak memenuhi standar kebugaran berada dalam pasukan. Pernyataan tersebut melanjutkan pendekatan yang telah ia sampaikan pada tahun sebelumnya ketika mengkritik kondisi fisik sebagian anggota militer dan menuntut penerapan standar yang lebih ketat. Pemerintahannya juga telah mendorong perubahan terkait kebugaran, penampilan, dan berbagai kebijakan personel. Namun, pernyataan Hegseth mengenai siapa yang sesuai dengan gambaran militernya juga menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai budaya institusi tersebut. Bagi Pentagon, tantangannya adalah menerapkan standar kesiapan secara konsisten sambil memastikan perubahan kebijakan tetap mengikuti aturan yang berlaku bagi seluruh anggota angkatan bersenjata Amerika Serikat.
Perubahan Budaya Militer Menjadi Bagian Agenda Pentagon
Restrukturisasi perwira tinggi berjalan bersama perubahan budaya yang Hegseth dorong di Pentagon. Ia secara terbuka mengkritik program keberagaman dan kebijakan yang menurutnya mengalihkan perhatian dari kemampuan bertempur. Dalam pidato Quantico, Hegseth kembali menyampaikan pandangannya bahwa angkatan bersenjata harus memusatkan perhatian pada disiplin, kemampuan tempur, dan standar kinerja. Pemerintahannya sebelumnya telah mengubah atau menghapus sejumlah program terkait keberagaman serta memperketat berbagai aturan personel. Pendukung pendekatan tersebut melihat perubahan itu sebagai upaya mengembalikan fokus militer pada misi utamanya. Sebaliknya, para pengkritik mempertanyakan dampak kebijakan tersebut terhadap personel dan menilai perubahan budaya yang cepat dapat menimbulkan persoalan baru. Perbedaan pandangan ini membuat restrukturisasi Pentagon memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pengurangan jabatan. Hegseth sedang berusaha membentuk struktur sekaligus budaya organisasi sesuai prioritas pemerintah, sementara dampak jangka panjang kebijakan tersebut masih harus terlihat melalui pelaksanaannya.
Baca Juga : Indonesia Lirik China untuk Proyek Kereta Trans-Kalimantan
Pemangkasan Tidak Selalu Berarti Perwira Langsung Dipecat
Angka 20 persen dapat memberikan kesan bahwa ribuan atau ratusan perwira tinggi langsung kehilangan pekerjaan. Namun, mekanismenya lebih kompleks. Reuters melaporkan bahwa Pentagon berencana mengurangi posisi yang diperuntukkan bagi general and flag officers, yakni jajaran jenderal dan laksamana berbintang satu hingga empat. Beberapa posisi dapat dihapus sepenuhnya. Sementara itu, jabatan lainnya dapat berubah sehingga pada masa mendatang tidak lagi membutuhkan perwira dengan pangkat setinggi sebelumnya. Dengan cara tersebut, Pentagon dapat mengurangi jumlah jabatan senior tanpa melakukan pemecatan langsung dalam setiap kasus. Pada 2025, Hegseth sebelumnya telah mengarahkan pengurangan minimum 10 persen posisi jenderal dan laksamana serta menetapkan target khusus untuk posisi bintang empat. Target terbaru kemudian memperluas restrukturisasi tersebut menjadi sekitar 20 persen secara keseluruhan. Pentagon menargetkan penyelesaian sebagian besar perubahan pada awal 2027, meskipun pelaksanaan teknisnya dapat berbeda pada setiap matra.
Kekhawatiran Muncul soal Pengalaman Pemimpin Militer
Kebijakan Hegseth tidak berjalan tanpa kritik. Pengurangan posisi senior dan pencopotan sejumlah perwira sebelumnya telah menimbulkan pertanyaan mengenai kedalaman pengalaman kepemimpinan militer AS. ABC News melaporkan bahwa mantan Menteri Angkatan Darat Dan Driscoll pernah memperingatkan Gedung Putih mengenai berkurangnya kumpulan perwira berpengalaman yang dapat mengisi komando senior pada masa depan. Kekhawatiran tersebut menjadi penting karena jabatan jenderal dan laksamana membutuhkan pengalaman panjang dalam operasi, perencanaan, logistik, dan pengambilan keputusan. Namun, pihak yang mendukung restrukturisasi berpendapat bahwa struktur yang lebih ramping dapat mengurangi lapisan birokrasi dan memberikan ruang lebih besar bagi pengambilan keputusan yang cepat. Dua pandangan tersebut menggambarkan dilema utama Pentagon. Militer membutuhkan efisiensi, tetapi juga harus mempertahankan pengetahuan institusional. Dampak sebenarnya dari pemangkasan baru dapat dinilai setelah struktur komando baru berjalan dan Pentagon melihat bagaimana perubahan tersebut memengaruhi kesiapan serta efektivitas organisasi.
Pentagon Mengubah Struktur di Tengah Tantangan Keamanan Global
Perubahan jajaran perwira tinggi berlangsung ketika militer Amerika Serikat menghadapi berbagai operasi dan tantangan keamanan internasional. Karena itu, restrukturisasi kepemimpinan membawa konsekuensi yang lebih luas daripada persoalan administratif. Pentagon harus memastikan perubahan posisi tidak mengganggu rantai komando, kesiapan pasukan, maupun perencanaan operasi. Pada saat yang sama, Hegseth juga mengumumkan sejumlah agenda lain, termasuk pembentukan komando baru untuk teknologi drone dan peperangan otonom. Rangkaian kebijakan tersebut memperlihatkan keinginannya untuk mengubah struktur militer sekaligus mempersiapkan teknologi bagi konflik masa depan. Namun, keberhasilan pendekatan itu tidak hanya bergantung pada jumlah posisi yang dapat dipangkas. Pentagon juga harus mempertahankan personel berpengalaman, memastikan standar diterapkan secara konsisten, dan menilai dampak kebijakan terhadap efektivitas pasukan. Oleh sebab itu, pengurangan 20 persen posisi jenderal dan laksamana menjadi salah satu bagian dari transformasi militer AS yang lebih luas dan masih terus berlangsung.