Inews Complex – Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih membuka peluang untuk kembali bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Namun, jalan menuju pertemuan baru tampaknya semakin sulit menjelang akhir 2026. Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip Kompas.com, Washington belum menerima tanggapan dari Pyongyang mengenai kemungkinan pertemuan tersebut. Situasi ini membuat peluang Trump bertemu Kim Jong Un dalam waktu dekat semakin tidak pasti. Padahal, Trump sebelumnya menyampaikan keinginan untuk bertemu Kim sebelum akhir tahun. Ia juga beberapa kali menyinggung hubungan pribadinya yang baik dengan pemimpin Korea Utara tersebut. Meski demikian, hubungan personal belum cukup untuk membuka kembali jalur diplomasi. Korea Utara belum menunjukkan minat nyata untuk melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklirnya. Sementara itu, waktu persiapan diplomatik semakin sempit menjelang sejumlah agenda internasional penting pada November 2026.
KTT APEC Sempat Membuka Peluang Pertemuan Kedua Pemimpin
Perhatian sempat tertuju pada KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik atau APEC di Shenzhen, China, pada 18–19 November 2026. Forum tersebut dinilai dapat memberikan kesempatan bagi Trump dan Kim untuk bertemu di sela agenda regional. Namun, laporan terbaru menunjukkan belum ada persiapan konkret dari Korea Utara. Lima sumber yang mengetahui perkembangan diplomatik menyebut Washington belum memperoleh respons dari Pyongyang. Empat sumber mendapat informasi dari pejabat senior Amerika Serikat dan Korea Selatan. Sementara itu, satu sumber lainnya merupakan pejabat Korea Selatan. Kondisi tersebut membuat waktu persiapan menjadi persoalan penting. Pertemuan pemimpin dua negara membutuhkan pengaturan keamanan, protokol, dan agenda diplomatik yang rumit. Karena itu, ketiadaan tanda persiapan dari Pyongyang memperkecil peluang pertemuan mendadak. Agenda regional lain pada November juga belum menghasilkan tanda bahwa kedua pemimpin akan duduk bersama.
Baca Juga : Kapal Tanker Temukan Pola Baru Lewati Hormuz, Ekspor Minyak Kembali Mengalir
Optimisme Agustus Mulai Berubah Menjadi Ketidakpastian
Beberapa bulan sebelumnya, peluang pertemuan terlihat jauh lebih terbuka. Pada Agustus 2026, Trump mengatakan ingin bertemu Kim sebelum akhir tahun. Ia bahkan mengeklaim bahwa pemimpin Korea Utara telah memberikan respons terhadap pendekatannya. Optimisme juga muncul dari Korea Selatan. Badan intelijen negara tersebut sempat memperkirakan peluang pertemuan Trump dan Kim mencapai sekitar 50 persen. Namun, suasana berubah menjelang akhir Oktober. Ketika berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada 19 Oktober, Trump mulai menunjukkan keraguan. Ia mengatakan memiliki hubungan sangat baik dengan Kim, tetapi tidak yakin ada pihak yang sedang meminta pertemuan. Pernyataan itu memberi gambaran bahwa komunikasi diplomatik belum berkembang seperti yang diharapkan. Dengan waktu yang terus berjalan, peluang Trump bertemu Kim Jong Un pada 2026 kini bergantung pada perubahan sikap Pyongyang dan perkembangan komunikasi kedua negara.
Gedung Putih Menawarkan Dialog Tanpa Prasyarat
Washington tetap menyampaikan pesan bahwa pintu dialog belum tertutup. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kebijakan Amerika Serikat terhadap Korea Utara tidak berubah. Menurut pejabat tersebut, Trump bersedia berbicara dengan Kim tanpa menetapkan prasyarat. Namun, pemerintah AS juga menegaskan belum memiliki pertemuan yang dapat diumumkan. Posisi ini menunjukkan bahwa Washington ingin menjaga ruang diplomasi tetap terbuka tanpa menjanjikan hasil tertentu. Pendekatan tersebut penting karena hubungan kedua negara pernah mengalami perubahan cepat. Trump dan Kim sebelumnya bertemu dalam beberapa kesempatan, termasuk pertemuan bersejarah di Singapura pada 2018 dan Hanoi pada 2019. Keduanya juga bertemu di Zona Demiliterisasi Korea pada Juni 2019. Meski pertemuan tersebut menarik perhatian dunia, perundingan mengenai denuklirisasi tidak menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Kini, tantangan yang sama kembali membayangi kemungkinan dialog baru.
Baca Juga :Warga Prancis Marah Harga Naik, Demo Nasional Berujung Kericuhan
Pyongyang Memberikan Sinyal Syarat yang Lebih Berat
Sementara Washington menawarkan dialog tanpa prasyarat, sinyal dari Pyongyang menunjukkan posisi yang berbeda. Media pemerintah Korea Utara mengindikasikan bahwa negara tersebut dapat meminta syarat penting sebelum menyetujui pertemuan baru. Salah satu isu yang muncul adalah pencabutan atau pelonggaran sanksi internasional. Namun, belum ada kesepakatan resmi yang menunjukkan Washington akan memenuhi permintaan tersebut. Perbedaan posisi ini menjadi hambatan besar bagi upaya Trump bertemu Kim Jong Un kembali. Korea Utara selama bertahun-tahun menghadapi berbagai sanksi terkait program nuklir dan rudalnya. Pyongyang memandang tekanan tersebut sebagai bagian penting dalam hubungan dengan Washington. Di sisi lain, Amerika Serikat selama ini mengaitkan perubahan besar kebijakan sanksi dengan kemajuan dalam persoalan nuklir. Karena itu, kedua pihak harus menemukan ruang kompromi jika ingin menghidupkan kembali dialog tingkat tinggi yang berhenti menghasilkan terobosan besar.
Program Nuklir Tetap Menjadi Persoalan Paling Sulit
Di balik pembicaraan mengenai pertemuan Trump dan Kim, program nuklir Korea Utara tetap menjadi masalah utama. Pertemuan tingkat tinggi sebelumnya berhasil menciptakan komunikasi langsung, tetapi belum menghasilkan kesepakatan permanen mengenai denuklirisasi. Washington menginginkan kemajuan nyata dalam mengurangi ancaman nuklir Korea Utara. Sebaliknya, Pyongyang menginginkan jaminan keamanan dan perubahan terhadap tekanan ekonomi yang dihadapinya. Perbedaan kepentingan tersebut membuat diplomasi berjalan sangat rumit. Pertemuan pemimpin dapat membuka komunikasi, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan teknis dan politik. Selain itu, situasi keamanan regional juga terus berubah. Korea Selatan, Jepang, China, dan negara lain memiliki kepentingan langsung terhadap perkembangan di Semenanjung Korea. Karena itu, kemungkinan pertemuan baru akan mendapat perhatian luas. Jika dialog kembali berlangsung, dunia akan melihat apakah kedua pemimpin mampu bergerak melampaui simbol diplomatik menuju pembicaraan yang lebih konkret.
Pertemuan Baru Bergantung pada Langkah Nyata Kedua Negara
Keinginan Trump untuk kembali berdialog menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih tersedia. Namun, sampai 23 Oktober 2026, belum ada pertemuan baru yang diumumkan secara resmi. Sumber diplomatik juga belum melihat persiapan konkret dari Pyongyang menjelang agenda regional pada November. Situasi tersebut membuat kemungkinan pertemuan tahun ini semakin sulit dipastikan. Meski begitu, sejarah hubungan Trump dan Kim menunjukkan bahwa perkembangan diplomatik dapat terjadi dengan cepat. Pertemuan di Zona Demiliterisasi pada 2019 menjadi contoh bagaimana komunikasi tingkat tinggi dapat muncul dalam waktu relatif singkat. Namun, tantangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan jadwal. Sanksi, program nuklir, dan tuntutan keamanan tetap menjadi persoalan mendasar. Karena itu, peluang Trump bertemu Kim Jong Un akan bergantung pada langkah nyata kedua pemerintah. Tanpa titik temu, hubungan personal kedua pemimpin mungkin belum cukup untuk menghidupkan kembali perundingan.