Inews Complex – Pemantauan kebakaran hutan dan lahan memasuki tahap penguatan dengan pemanfaatan data berbasis citra satelit. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB memperbaiki metode penghitungan luas wilayah terdampak agar informasi yang diperoleh semakin akurat. Langkah tersebut berjalan bersama penanganan karhutla di lima provinsi prioritas. Teknologi penginderaan jauh menjadi penting karena kebakaran dapat tersebar di wilayah luas dan sulit dijangkau hanya melalui pengamatan langsung di lapangan.
BNPB Memperbaiki Metode Penghitungan Berbasis Citra Satelit
Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi menyampaikan bahwa lembaganya melakukan perbaikan metode penghitungan menggunakan citra satelit. Langkah tersebut dilakukan setelah dirinya dilantik pada 15 Oktober 2026. Pembaruan metode diperlukan karena informasi mengenai luas kebakaran menjadi salah satu dasar dalam membaca perkembangan situasi. Semakin baik kualitas pemetaan, semakin mudah pula pemerintah membandingkan kondisi antarwilayah serta menentukan lokasi yang membutuhkan perhatian lebih cepat.
Satelit Pemantau Karhutla Membantu Membaca Wilayah Luas
Penggunaan citra satelit menawarkan keunggulan karena pemantauan dapat mencakup kawasan yang sangat luas. Teknologi penginderaan jauh dapat membantu mengidentifikasi perubahan permukaan, area terbakar, serta indikasi titik panas. Namun, data satelit tetap perlu dianalisis dengan metode yang tepat. Titik panas, misalnya, tidak selalu berarti kebakaran dengan luas tertentu. Karena itu, penyempurnaan metode penghitungan menjadi penting agar data yang digunakan tidak sekadar menunjukkan lokasi anomali panas, tetapi juga membantu memberikan gambaran kondisi lapangan yang lebih akurat.
Lima Provinsi Menjadi Fokus Penanganan Karhutla
BNPB menetapkan lima wilayah sebagai prioritas penanganan. Provinsi tersebut meliputi Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Penetapan prioritas memungkinkan sumber daya diarahkan pada kawasan yang memerlukan perhatian lebih besar. Selain itu, pemerintah dapat memadukan informasi satelit dengan laporan lapangan, kondisi cuaca, serta perkembangan kualitas udara. Menurut saya, pendekatan berbasis beberapa sumber data lebih berguna daripada bergantung pada satu indikator ketika menghadapi bencana dengan karakter yang cepat berubah.
Baca Juga: Kasus Anak Tewas di Bandung Polisi Dalami Perselisihan Orang Tua
Sumatera Selatan dan Jambi Mengalami Peningkatan Kejadian
Dari lima wilayah prioritas, BNPB mencatat peningkatan kejadian di Sumatera Selatan dan Jambi. Meski demikian, peningkatan tersebut disebut belum terlalu signifikan. Informasi seperti ini tetap penting untuk kewaspadaan dini. Sebab, perubahan kondisi angin, curah hujan, dan tingkat kekeringan dapat memengaruhi perkembangan kebakaran. Oleh karena itu, pemantauan secara berkala diperlukan agar perubahan situasi dapat terdeteksi lebih cepat. Data terbaru kemudian dapat menjadi bahan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Data Satelit Tidak Berdiri Sendiri dalam Penanganan Bencana
Meski teknologi satelit memberikan gambaran dari udara, verifikasi lapangan tetap memiliki fungsi penting. Petugas dapat memastikan kondisi vegetasi, sumber asap, akses menuju lokasi, serta kebutuhan penanganan secara langsung. Dengan demikian, citra satelit berfungsi sebagai salah satu lapisan informasi dalam sistem pemantauan. Kombinasi antara teknologi penginderaan jauh dan pengamatan lapangan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap. Pendekatan tersebut juga membantu mengurangi risiko keputusan yang hanya didasarkan pada satu jenis data.
Modifikasi Cuaca Digunakan sebagai Bagian Penanganan
Selain memperbaiki sistem pemantauan, BNPB menjalankan operasi modifikasi cuaca di wilayah yang membutuhkan penanganan. Salah satu metode yang digunakan adalah penyemaian es kering atau dry ice untuk mendukung proses pembentukan hujan ketika kondisi atmosfer memungkinkan. Berdasarkan laporan BNPB, sebanyak 3.100 kilogram es kering telah digunakan sejak 20 Oktober melalui lima sorti penerbangan. Sementara itu, operasi di Sumatera Selatan dilakukan melalui satu sorti dengan sekitar 800 kilogram bahan penyemaian.
Kualitas Udara Palembang Turut Menjadi Perhatian
BNPB juga melaporkan perubahan kondisi udara dan jarak pandang di Palembang setelah rangkaian penanganan berlangsung. Menurut laporan tersebut, konsentrasi partikulat PM2.5 mengalami penurunan. Sementara itu, jarak pandang disebut meningkat dari sekitar 700 meter menjadi 7.000 meter. Namun, perubahan kualitas udara dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk hujan, arah angin, intensitas kebakaran, serta kondisi atmosfer. Karena itu, data tersebut lebih tepat dibaca sebagai perkembangan kondisi selama operasi berlangsung, bukan bukti bahwa satu tindakan menjadi satu-satunya penyebab perubahan.
Akurasi Data Penting untuk Menentukan Respons Lapangan
Dalam penanganan karhutla, selisih data dapat berpengaruh terhadap penentuan prioritas. Informasi mengenai lokasi dan luas area terdampak membantu pemerintah memperkirakan kebutuhan personel maupun dukungan lainnya. Selain itu, pemetaan dapat digunakan untuk mengamati perubahan dari waktu ke waktu. Jika area terbakar meluas, respons dapat ditingkatkan. Sebaliknya, ketika situasi membaik, sumber daya dapat disesuaikan. Inilah alasan peningkatan akurasi penghitungan memiliki fungsi praktis, bukan hanya untuk memperbaiki angka dalam laporan.
Teknologi Membantu Membangun Sistem Peringatan Lebih Cepat
Keunggulan lain dari pemantauan berbasis teknologi adalah kecepatan memperoleh informasi. Data satelit yang diperbarui secara berkala dapat membantu mendeteksi perubahan sebelum laporan lengkap dari lapangan tersedia. Namun, teknologi bukan pengganti petugas maupun langkah pencegahan. Sistem yang efektif justru membutuhkan integrasi antara data satelit, informasi cuaca, pemantauan kualitas udara, laporan masyarakat, dan verifikasi petugas. Dengan kombinasi tersebut, potensi eskalasi kebakaran dapat dibaca melalui lebih banyak indikator.
Penguatan Pemantauan Menjadi Bagian Penting Pencegahan Karhutla
Penguatan satelit pemantau karhutla menunjukkan pentingnya data dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Lima provinsi yang kini menjadi prioritas membutuhkan pemantauan berkelanjutan karena situasi dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan aktivitas di lapangan. Perbaikan metode penghitungan citra satelit dapat membantu meningkatkan kualitas informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Namun, hasil terbaik tetap bergantung pada kombinasi teknologi, respons cepat, verifikasi lapangan, serta upaya pencegahan agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.