iNews Complex – Gedung Putih kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah memasang plakat deskriptif di bawah potret para mantan Presiden Amerika Serikat dalam area yang disebut “Presidential Walk of Fame”. Alih-alih bersifat netral dan edukatif, plakat tersebut memuat penilaian tajam yang mencerminkan sudut pandang Presiden Donald Trump. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya personalisasi Gedung Putih sesuai preferensi politiknya. Setiap plakat dipasang permanen di kolonnade, menjadikan interpretasi sejarah itu sebagai konsumsi publik harian bagi pengunjung. Transisi dari sekadar galeri potret menuju narasi politis ini memicu perdebatan luas, karena Gedung Putih selama ini dipandang sebagai simbol institusi negara, bukan opini personal. Banyak sejarawan menilai, perubahan tersebut menggeser fungsi ruang publik dari refleksi sejarah menjadi alat komunikasi politik yang emosional dan provokatif.
Joe Biden Disebut “Presiden Terburuk dalam Sejarah Amerika”
Plakat paling kontroversial terpasang di bawah potret Joe Biden, yang bahkan bukan foto resmi melainkan gambar tanda tangan autopen. Dalam deskripsi itu, Biden disebut sebagai “Presiden terburuk dalam sejarah Amerika” dan dikaitkan dengan klaim Pemilu paling korup. Narasi ini langsung memicu reaksi keras karena menampilkan tudingan politik sebagai fakta historis. Secara emosional, langkah tersebut terasa seperti penghakiman sepihak terhadap seorang mantan presiden yang masih hidup. Banyak pengamat menilai, bahasa yang digunakan jauh dari standar dokumentasi sejarah kenegaraan. Selain itu, penggunaan autopen turut menambah lapisan simbolik, seolah ingin menegaskan keraguan terhadap legitimasi Biden. Transisi dari kritik kampanye ke ruang resmi negara inilah yang membuat publik mempertanyakan batas antara kebebasan berekspresi presiden dan tanggung jawab institusional Gedung Putih.
“Baca Juga : Strategi MIND ID Memperkuat Tata Kelola Bisnis Berintegritas dan Berkelanjutan”
Barack Obama dan Presiden Lain dalam Narasi Kritis
Tidak hanya Biden, Barack Obama juga digambarkan secara negatif melalui plakat yang menyebutnya sebagai figur “paling memecah belah”. Kritik diarahkan pada kebijakan kesehatan serta dampak politik yang disebut merugikan partainya. Bill Clinton pun tak luput dari narasi yang menekankan peran Partai Republik atas capaian legislatifnya, sekaligus mengaitkan warisannya dengan kekalahan Hillary Clinton pada 2016. George W Bush dikritik atas perang dan krisis ekonomi global, sementara Jimmy Carter digambarkan melalui rentetan peristiwa sulit selama masa jabatan. Meskipun beberapa plakat mengakui sisi positif setelah masa kepresidenan, keseluruhan narasi terasa berat sebelah. Alur ini menunjukkan bagaimana sejarah dipresentasikan bukan sebagai rangkaian konteks, melainkan sebagai potongan evaluasi politik yang emosional dan selektif.
Reagan Dipuji, Nixon dan Ford Dinilai Lebih Positif
Di tengah gelombang kritik terhadap banyak presiden, Ronald Reagan tampil sebagai pengecualian. Plakatnya bernada hangat, menonjolkan popularitas, kemenangan telak pemilu, serta hubungan simbolik dengan Donald Trump. Richard Nixon bahkan digambarkan memiliki kebangkitan politik besar, sementara Gerald Ford dipuji atas keputusan pengampunan terhadap Nixon. Kontras ini menciptakan kesan hierarki moral yang jelas di antara para presiden, seolah ada garis pembeda antara yang “layak dikenang” dan yang “patut disalahkan”. Transisi dari kritik keras ke pujian personal memperkuat anggapan bahwa plakat-plakat tersebut lebih mencerminkan preferensi politik ketimbang evaluasi sejarah objektif. Bagi sebagian pengunjung, pengalaman ini terasa seperti memasuki ruang narasi politik hidup, bukan galeri sejarah nasional.
“Simak Juga : Mulai Juli 2026, Registrasi Kartu SIM Wajib Verifikasi Wajah”
Pembelaan Gedung Putih dan Alasan di Balik Plakat
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt membela pemasangan plakat tersebut dengan menyebutnya sebagai deskripsi elok tentang warisan setiap presiden. Ia bahkan menekankan bahwa beberapa teks ditulis langsung oleh Presiden Trump sebagai “pelajar sejarah”. Pernyataan ini justru memperkuat kritik bahwa Gedung Putih kini menjadi medium opini personal. Dari sudut pandang komunikasi politik, langkah ini menunjukkan keinginan kuat untuk mengontrol narasi sejarah secara langsung. Namun, bagi akademisi dan sejarawan, sejarah yang sehat lahir dari dialog dan penelitian, bukan dari satu suara dominan. Di sinilah ketegangan muncul antara kebebasan berekspresi seorang presiden dan kewajiban Gedung Putih menjaga integritas simbol kenegaraan yang inklusif.
Kecaman Publik dan Kekhawatiran Soal Preseden
Reaksi keras datang dari berbagai tokoh publik. Gubernur California Gavin Newsom menyindir prioritas Trump yang dianggap mengabaikan persoalan ekonomi rakyat. Jenderal purnawirawan Barry R McCaffrey bahkan menyebut langkah tersebut memalukan dan kekanak-kanakan. Kritik ini mencerminkan kekhawatiran lebih besar tentang preseden yang ditinggalkan. Jika Gedung Putih bebas menafsirkan sejarah sesuai selera penguasa saat ini, maka ruang publik berisiko kehilangan netralitasnya. Secara emosional, kontroversi ini membuka luka lama polarisasi politik Amerika. Transisi dari perdebatan kebijakan ke perebutan makna sejarah menunjukkan bahwa pertarungan politik kini merambah simbol-simbol paling sakral negara, meninggalkan pertanyaan mendalam tentang arah demokrasi dan memori kolektif bangsa.