inews Complex – Sabtu dini hari di Caracas berubah menjadi momen yang tak terlupakan bagi Venezuela dan dunia. Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap pasukan elite Amerika Serikat saat masih terlelap di kamar tidur mereka. Operasi senyap itu dilakukan oleh Delta Force, unit paling rahasia Angkatan Darat AS, yang bergerak cepat dan presisi di jantung ibu kota. Dua sumber yang mengetahui operasi tersebut menyebut pasangan itu diseret keluar kamar tanpa perlawanan berarti. Suasana malam yang biasanya tenang mendadak menjadi saksi peristiwa geopolitik besar. Menurut pejabat AS, tidak ada korban jiwa di pihak pasukan Amerika, menandakan operasi ini dirancang dengan kalkulasi matang. Peristiwa tersebut langsung memicu gelombang spekulasi global, karena untuk pertama kalinya seorang presiden yang masih berkuasa ditangkap langsung di negaranya oleh kekuatan asing.
Konfirmasi Trump dan Perjalanan ke New York
Tak lama setelah kabar penangkapan menyebar, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi langsung peristiwa tersebut. Dalam wawancara telepon dengan Fox News, Trump menyebut Maduro dan istrinya telah dibawa ke atas kapal USS Iwo Jima dan tengah menuju New York. Nada bicaranya terdengar dingin, bahkan sinis, ketika ia menyebut perjalanan helikopter itu sebagai “penerbangan yang menyenangkan”. Namun, di balik komentar tersebut, Trump menegaskan alasan keras di balik operasi itu. Ia menuding Maduro bertanggung jawab atas banyak kematian dan kejahatan lintas negara. Trump juga mengungkap bahwa sebelum penangkapan, ia telah memberi ultimatum tegas kepada Maduro agar menyerah. Pengakuan ini menambah lapisan dramatis pada kisah penahanan tersebut, sekaligus menegaskan bahwa langkah ini bukan keputusan mendadak, melainkan hasil eskalasi panjang hubungan Washington dan Caracas.
“Baca Juga : Tiket Termurah Piala Dunia 2026 Rp 1 Juta, FIFA Ungkap Alasan di Balik Harga Mahal”
Operasi Militer yang Disaksikan Langsung dari Mar-a-Lago
Salah satu detail paling mencolok dari peristiwa ini adalah pengakuan Trump bahwa ia menyaksikan langsung operasi penangkapan dari ruang kontrol di resor pribadinya, Mar-a-Lago, Florida. Dikelilingi para jenderal, Trump mengamati setiap tahap manuver militer tersebut. Ia memuji kecepatan dan kekuatan pasukan AS, menyebut tidak ada negara lain yang mampu melakukan operasi sepresisi itu. Trump bahkan mengisahkan bagaimana pasukan elite mampu menerobos pintu baja yang dirancang khusus untuk pertahanan tingkat tinggi. Semua berlangsung dalam hitungan detik, menurutnya. Pernyataan ini bukan hanya menunjukkan rasa bangga, tetapi juga pesan kekuatan kepada dunia. AS ingin menegaskan dominasinya dalam operasi militer global, sekaligus memperlihatkan bahwa tidak ada benteng kekuasaan yang benar-benar aman dari jangkauan mereka.
Tuduhan AS dan Latar Belakang Penangkapan
Di balik operasi dramatis ini, terdapat tumpukan tuduhan serius dari Washington terhadap Maduro. Pemerintah AS menuding Presiden Venezuela itu memimpin “negara narkoba” dan memanipulasi hasil pemilihan presiden 2024. Oposisi Venezuela mengklaim kemenangan mereka dibatalkan secara sepihak oleh pemerintahan Maduro. Trump juga menuding Venezuela menjadi jalur transit utama kokain dan berkontribusi pada krisis fentanil di AS. Dalam konteks ini, dua kelompok kriminal asal Venezuela, Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, ditetapkan sebagai Organisasi Teroris Asing. Bahkan, Trump menuduh Cartel de los Soles dipimpin langsung oleh Maduro. Tuduhan-tuduhan inilah yang dijadikan dasar legitimasi politik dan hukum bagi operasi militer AS di Venezuela.
“Simak Juga : Elon Musk Siap Produksi Massal Chip Otak Neuralink Mulai 2026”
Bantahan Maduro dan Isu Minyak Venezuela
Sebelum penangkapannya, Maduro dengan tegas membantah semua tuduhan AS. Mantan sopir bus berusia 63 tahun itu menyebut tudingan Washington sebagai dalih untuk menguasai cadangan minyak Venezuela, salah satu yang terbesar di dunia. Menurut pemerintah Caracas, perang melawan narkoba dipolitisasi untuk menggulingkan pemerintahan sah. Narasi ini telah lama digaungkan Maduro di hadapan pendukungnya, membangun citra perlawanan terhadap imperialisme AS. Namun, penangkapannya justru membuka bab baru yang penuh ketidakpastian. Banyak pihak menilai, minyak Venezuela tetap menjadi faktor kunci dalam konflik ini. Di tengah krisis energi global, kontrol atas sumber daya strategis tersebut menjadi taruhan besar dalam permainan geopolitik yang jauh melampaui nasib satu rezim.
Dampak Global dan Masa Depan Venezuela
Penangkapan Nicolas Maduro langsung mengguncang tatanan politik Amerika Latin dan memicu reaksi keras dari berbagai negara. Sebagian menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan, sementara yang lain melihatnya sebagai titik balik bagi Venezuela. Di dalam negeri, masa depan kekuasaan Caracas kini berada dalam kekosongan yang rawan konflik. Di tingkat global, aksi ini mempertegas gaya kepemimpinan Trump yang mengandalkan kekuatan militer dan simbol dominasi. Dunia kini menanti langkah selanjutnya: apakah akan muncul negosiasi, pergantian rezim, atau justru eskalasi baru. Bagi rakyat Venezuela, peristiwa ini bukan sekadar berita internasional, melainkan babak emosional dalam sejarah panjang ketidakstabilan politik yang terus membentuk kehidupan mereka sehari-hari.