iNews Complex – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat bukan hanya mengguncang Amerika Latin, tetapi juga memicu perhatian serius di Beijing. Dalam waktu kurang dari tiga jam, pasukan elite AS mampu menembus jantung kekuasaan sebuah negara berdaulat. Bagi China, operasi ini bukan sekadar kabar luar negeri, melainkan cermin yang memantulkan potensi ancaman di masa depan. Para analis militer China langsung mengkaji detail serangan tersebut, mulai dari urutan taktik hingga respons pertahanan Venezuela. Ada rasa waspada yang mengemuka, meski dibalut keyakinan bahwa situasi China berbeda. Namun sejarah mengajarkan bahwa kekuatan besar selalu belajar dari setiap konflik, bahkan yang melibatkan negara lain. Dalam konteks ini, Venezuela menjadi studi kasus hidup tentang bagaimana perang modern tidak lagi mengandalkan kekuatan frontal semata.
Titik Lemah Pertahanan Udara Venezuela
Salah satu pelajaran paling menonjol terletak pada sistem pertahanan udara Venezuela. Negara itu mengandalkan kombinasi teknologi Rusia seperti S-300VM dan Buk-M2, serta radar JY-27A buatan China. Di atas kertas, sistem ini tampak mumpuni. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Analis China menilai respons pertahanan udara Venezuela lambat dan tidak terkoordinasi. Serangan siber dan pengacakan elektronik membuat radar dan sistem komando lumpuh sebelum sempat bereaksi. Inilah titik lemah yang dieksploitasi AS dengan presisi. Bagi Beijing, temuan ini menjadi pengingat bahwa teknologi canggih tanpa integrasi dan kesiapan personel hanya menjadi pajangan mahal. Pertahanan modern menuntut kecepatan, sinkronisasi, dan kemampuan beroperasi di bawah tekanan ekstrem.
Operasi Delta Force dan Perang Modern
Serangan AS ke Caracas menunjukkan wajah perang modern yang dingin dan efisien. Pasukan Delta Force tidak datang dengan gempuran besar-besaran, melainkan kombinasi senyap antara serangan siber, pengintaian elektronik, dan manuver taktis. Helikopter terbang rendah, hanya sekitar 30 meter di atas laut, menghindari deteksi radar. Lebih dari 150 pesawat tempur dan pengintai menciptakan jalur aman di udara, sementara sistem pertahanan musuh dilumpuhkan dari jarak jauh. Bagi China, ini bukan taktik baru, tetapi contoh nyata penerapan doktrin lama dengan teknologi terbaru. Fu Qianshao menyebut operasi ini sebagai studi kasus tambahan, bukti bahwa AS konsisten menggunakan pendekatan serupa selama puluhan tahun dengan tingkat presisi yang terus meningkat.
Apakah China Terancam dengan Skenario Serupa?
Meski banyak pelajaran dipetik, sejumlah pakar China menilai operasi Venezuela tidak bisa langsung diterapkan pada negara sebesar China. Xie Maosong dari Universitas Tsinghua menegaskan perbedaan kekuatan militer dan pertahanan sangat signifikan. China memiliki sistem keamanan ibu kota dan perlindungan pemimpin yang jauh lebih ketat. Namun, keyakinan ini tidak meniadakan kewaspadaan. Dalam dunia militer, rasa aman berlebihan justru berbahaya. Beijing menyadari bahwa ancaman tidak selalu datang dalam bentuk serangan terbuka. Infiltrasi siber, spionase, dan kolusi internal bisa menjadi celah yang sama mematikannya. Karena itu, diskusi di kalangan analis China lebih menekankan evaluasi berkelanjutan ketimbang rasa takut instan.
“Simak Juga : AS Tangkap Nicolas Maduro: Sahkah Menurut Hukum Internasional?”
Reaksi Publik China dan Nasionalisme Digital
Di media sosial China, operasi AS di Venezuela memicu gelombang diskusi panas. Banyak warganet melihatnya sebagai peringatan keras tentang pentingnya kekuatan nasional. Komentar bernada nasionalisme bermunculan, menekankan bahwa negara lemah akan mudah ditekan. Venezuela sering dijadikan contoh tragis: kaya sumber daya alam, tetapi rapuh secara ekonomi dan militer. Di sisi lain, ada juga suara yang menyerukan penguatan keamanan siber dan kewaspadaan terhadap pengaruh asing. Percakapan publik ini menunjukkan bagaimana konflik global cepat meresap ke kesadaran masyarakat. Bagi Beijing, opini publik semacam ini menjadi bahan bakar sekaligus tantangan, karena tuntutan akan keamanan dan kedaulatan semakin keras disuarakan dari dalam negeri.
Pelajaran Strategis bagi Masa Depan Pertahanan China
Pada akhirnya, serangan AS ke Venezuela menjadi pengingat bahwa peperangan masa depan ditentukan oleh integrasi sistem, kecepatan keputusan, dan dominasi informasi. Para analis China sepakat bahwa pertahanan udara dan keamanan siber harus terus diperkuat. Bukan karena China lemah, melainkan karena dunia semakin kompleks dan tidak terduga. Seperti ditegaskan Fu Qianshao, metode AS sudah lama dikenal, tetapi efektivitasnya tetap relevan hingga kini. Bagi Beijing, pelajaran terbesar bukan pada kekalahan Venezuela, melainkan pada pentingnya kesiapan menyeluruh dari teknologi, intelijen, hingga stabilitas internal. Dalam lanskap global yang penuh ketegangan, kewaspadaan menjadi harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kedaulatan.