Inews Complex – Setelah operasi yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari 2026, ketegangan global semakin meningkat. Hal ini memicu kekhawatiran besar di Pyongyang, tempat Kim Jong Un memimpin Korea Utara. Menurut beberapa sumber, termasuk mantan diplomat Korea Utara Lee Il-kyu, Kim merasa dirinya sangat rentan terhadap serangan serupa yang dapat menggulingkan kekuasaannya. Lee menjelaskan bahwa peristiwa di Venezuela adalah “skenario terburuk” yang memicu kepanikan di kalangan elite politik Korea Utara.
Operasi AS di Venezuela: Apa yang Terjadi?
Pada 3 Januari 2026, Badan Penindakan Narkoba Amerika Serikat (DEA) berhasil menggulingkan Presiden Nicolás Maduro. Operasi cepat ini menyebabkan Venezuela terperosok dalam kekosongan kekuasaan. Lee Il-kyu, yang pernah bertugas di Kuba, menilai bahwa keberhasilan Amerika Serikat dalam melaksanakan operasi tersebut membuat Kim Jong Un semakin takut akan nasib yang sama. Penggulingan Maduro dianggap sebagai bukti bahwa AS dapat dengan mudah menyingkirkan rezim yang tidak mereka inginkan, membuat Kim merasa sangat terancam.
“Baca Juga : Mandat Reformasi 1998 Menegaskan Polri di Bawah Presiden”
Kepanikan di Kalangan Kepemimpinan Korea Utara
Kekhawatiran Kim Jong Un tidak hanya bersifat pribadi. Lee mengungkapkan bahwa penggulingan Maduro meningkatkan kepanikan di kalangan elite keamanan Korea Utara. Kim akan merombak seluruh sistem terkait keamanan pribadinya dan meningkatkan langkah-langkah pencegahan untuk melindungi dirinya dari potensi serangan. “Kim pasti merasa bahwa operasi ini bisa terjadi pada dirinya,” kata Lee, yang kini bekerja di lembaga pemikir di Seoul. Perasaan ini membuat Kim semakin terobsesi untuk memperkuat pertahanan rezimnya.
Reaksi Kim Jong Un terhadap Tindakan AS
Sebagai pemimpin yang memegang kendali penuh atas negara, Kim Jong Un selalu menuduh Amerika Serikat berusaha menggulingkan rezim Korea Utara. Selama ini, Korea Utara mempertahankan program nuklir dan misilnya sebagai penangkal terhadap ancaman tersebut. Namun, penggulingan Maduro memberi sinyal yang lebih kuat bahwa kekuatan AS benar-benar dapat menggulingkan pemimpin yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka, meningkatkan ketegangan politik global.
“Baca Juga : Harga Emas dan Perak Rebound, Sinyal Awal “Perang Logam” Global”
Keamanan Pribadi Kim Jong Un: Fokus Utama
Setelah insiden di Venezuela, Kim Jong Un diyakini mulai menilai kembali langkah-langkah pengamanan dirinya. Menurut Lee Il-kyu, Kim akan segera memperketat pengawasan dan memperkuat langkah-langkah antisipasi terhadap serangan yang lebih terorganisir. Selama ini, rezim Korea Utara telah memperkenalkan berbagai teknologi dan sistem untuk menjaga keamanan para pemimpin tertinggi. Namun, semakin banyaknya ancaman dari luar negeri membuat Kim merasa perlu memperkuat sistem pertahanan pribadi dengan lebih serius.
Kepanikan yang Mempengaruhi Kebijakan Dalam Negeri
Keberhasilan Amerika Serikat menggulingkan Maduro tidak hanya memengaruhi kebijakan luar negeri Korea Utara. Menurut Lee, kekhawatiran Kim Jong Un akan menyebar ke kebijakan dalam negeri. Rezim yang semakin cemas kemungkinan besar akan menanggapi segala bentuk protes atau pembelotan dengan lebih keras. Selama ini, Kim dikenal dengan kebijakan yang sangat ketat terhadap perbedaan pendapat di dalam negara. Penggulingan Maduro dapat mendorong pemerintah Korea Utara untuk lebih membatasi kebebasan dalam negeri dan memperkuat kontrol terhadap warga negaranya.
Dampak Psikologis di Lingkungan Kepemimpinan Korea Utara
Menurut Lee Il-kyu, rasa ketakutan ini tidak hanya dirasakan oleh Kim Jong Un, tetapi juga oleh para pejabat tinggi di sekitar pemimpin Korea Utara. Ketegangan di dalam kepemimpinan negara semakin terasa. Para pejabat yang sebelumnya tidak pernah berpikir untuk menggulingkan rezim kini mulai memperhitungkan kemungkinan tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kepanikan ini dapat memengaruhi kebijakan Korea Utara dalam menghadapi ancaman luar dan juga dalam melanjutkan program-program domestik mereka.