Inews Complex – Pada 3 Februari 2026, Seif Al Islam Khadafi, anak dari mantan diktator Libya Muammar Khadafi, ditemukan tewas setelah dibunuh oleh geng bersenjata di rumahnya di Zintan, Libya. Berita ini disampaikan oleh pengacaranya, Marcel Ceccaldi, yang mengungkapkan bahwa Seif dibunuh oleh empat orang yang mengamuk di rumahnya pada pukul 14.00 waktu setempat.
Seif Al Islam Khadafi: Sosok yang Kontroversial
Seif Al Islam Khadafi dikenal sebagai figur yang sempat diprediksi akan menggantikan ayahnya. Sebagai anak tertua Muammar Khadafi, ia dianggap sebagai penerus yang layak dalam pemerintahan Libya. Namun, meski tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan, Seif sering digambarkan sebagai perdana menteri de facto. Karier politiknya, yang awalnya terlihat menjanjikan, akhirnya terhenti setelah pemberontakan Arab Spring pada 2011.
“Baca Juga : Kaya Mendadak di Usia Senja, Lansia Malaysia Menang Lotre Rp 170 Miliar“
Seif dan Tuntutan Hukum Internasional
Seif juga menjadi salah satu tokoh yang paling diburu oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan selama pemberontakan 2011. Meskipun ia sempat dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di Tripoli pada 2015, Seif akhirnya dibebaskan setelah menerima amnesti pada 2017. Keputusan ini memicu kontroversi, namun ia tetap menjadi sosok yang memiliki pengaruh besar dalam politik Libya.
Insiden Pembunuhan yang Mencengangkan
Pada 3 Februari 2026, Seif dibunuh secara tragis di rumahnya oleh geng bersenjata yang diduga merencanakan serangan tersebut. Sebelum kejadian, Seif telah diperingatkan mengenai potensi ancaman terhadap keselamatannya oleh teman dekatnya. Bahkan kepala suku Khadafi sempat menghubungi Seif untuk menawarkan bantuan keamanan, namun Seif menolak. Insiden ini menambah ketidakpastian di Libya, yang hingga saat ini belum mengetahui siapa pelaku di balik pembunuhan tersebut.
“Baca Juga : AS Tuduh China Raup Untung Besar dari Minyak Venezuela Saat Maduro Berkuasa“
Motif Pembunuhan: Sebuah Misteri
Meski banyak yang menduga bahwa pembunuhan ini terkait dengan masalah politik atau pembalasan, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas kematiannya. Seif yang sempat mencalonkan diri sebagai Presiden Libya pada 2021, akhirnya mengundurkan diri setelah pemilihan ditunda. Pembunuhan ini bisa jadi merupakan salah satu dari banyak konspirasi yang terjadi di Libya pasca-revolusi, di mana banyak tokoh politik dan keluarga Khadafi menjadi sasaran kekerasan.
Perjalanan Karier Seif Sebelum Pemberontakan
Seif Al Islam Khadafi memulai kariernya sebagai figur moderat yang mendukung reformasi di Libya. Ia sering berbicara mengenai modernisasi negara dan membuka ruang bagi perubahan. Namun, citranya mulai rusak setelah terjadinya pemberontakan pada 2011, di mana Seif memimpin respons keras terhadap pemberontak. Janji untuk menumpas pemberontakan dengan kekerasan membuatnya semakin tidak populer di mata masyarakat internasional.
Seif dan Masa Depannya yang Tertunda
Pada 2021, Seif mencoba kembali ke dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai Presiden Libya. Namun, pemilihan tersebut dibatalkan dan pemilihannya ditunda tanpa batas waktu. Keinginan Seif untuk kembali berkuasa di Libya pun berakhir dengan kegagalan. Walaupun demikian, ia tetap menjadi sosok yang penting dalam sejarah modern Libya, meski jalannya di dunia politik terhalang oleh berbagai tantangan.
Tanggapan Terhadap Pembunuhan Seif
Reaksi terhadap kematian Seif Al Islam Khadafi beragam. Beberapa pihak menganggap pembunuhannya sebagai akhir dari era keluarga Khadafi, sementara yang lain menilai ini sebagai hasil dari persaingan politik yang masih berlangsung di Libya. Para analis internasional juga menyoroti bagaimana pembunuhan ini mencerminkan ketidakstabilan yang masih ada di negara tersebut pasca-revolusi.
Kesimpulan: Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya di Libya?
Dengan tewasnya Seif Al Islam Khadafi, masa depan Libya tetap penuh ketidakpastian. Meskipun Khadafi dan keluarganya telah jatuh dari kekuasaan, dampak politik mereka masih terasa. Pembunuhan ini mungkin menandai akhir dari salah satu babak besar dalam sejarah politik Libya, tetapi tantangan besar masih menanti negara ini.