iNews Complex – Pasukan Rusia kembali melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke ibu kota Ukraina, Kyiv. Serangan yang terjadi pada Rabu (27/8/2025) malam waktu setempat itu menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk seorang anak, serta melukai 38 orang lainnya. Selain korban jiwa, serangan juga merusak sejumlah bangunan tempat tinggal dan infrastruktur di tujuh distrik berbeda.
Langit malam Kyiv dipenuhi cahaya ledakan dan kepulan asap tebal selama lebih dari sembilan jam peringatan udara. Layanan darurat Ukraina masih melakukan penyelamatan, memadamkan api, dan menyisir reruntuhan bangunan untuk mencari korban yang tertimbun.
“Baca Juga : Turki Bangun Shelter Perlindungan Bom di 81 Provinsi, Disetujui Erdogan”
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengecam keras serangan ini. Ia menyebut bahwa tindakan Rusia merupakan jawaban nyata atas upaya diplomasi internasional, termasuk dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sedang mencoba menengahi konflik.
“Rusia memilih balistik, bukan meja perundingan. Rusia memilih untuk terus membunuh, bukan mengakhiri perang,” tulis Zelenskyy di media sosial X. Ia juga menyerukan kepada dunia internasional untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Moskow.
Kepala administrasi militer Kyiv, Tymur Tkachenko, mengatakan bahwa pola serangan Rusia sudah sangat jelas: gabungan, dari berbagai arah, dan secara sistematis menargetkan kawasan sipil.
“Simak Juga : Bareskrim Polri Bongkar Jaringan Judi Online Internasional, Rp 887 Juta Disita”
“Sayangnya, ini adalah gaya khas Rusia. Mereka menargetkan bangunan tempat tinggal biasa,” ujarnya melalui Telegram.
Menurut laporan Angkatan Udara Ukraina, dalam serangan kali ini Rusia meluncurkan 598 drone dan 31 rudal ke berbagai wilayah Ukraina. Dari jumlah itu, pasukan pertahanan udara Ukraina berhasil menembak jatuh 563 drone dan 26 rudal.
Serangan tercatat menghantam 13 lokasi, dengan puing-puing jatuh di 26 titik berbeda. Meski sebagian besar berhasil digagalkan, skala serangan tetap menimbulkan kerusakan besar dan korban jiwa.
Dalam beberapa bulan terakhir, Rusia semakin sering meningkatkan intensitas serangan udara, termasuk ke kota-kota yang jauh dari garis depan pertempuran. Moskow tetap bersikeras bahwa mereka tidak menargetkan warga sipil, meski fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya dengan banyaknya blok apartemen dan fasilitas publik yang rusak.
Serangan terbaru ini menambah panjang daftar tragedi yang dialami warga sipil Ukraina sejak invasi dimulai.