Inews Complex – Di tengah Basilika Santo Petrus yang selalu penuh doa dan langkah peziarah, Vatikan bersiap menghadirkan sesuatu yang terasa modern namun tetap lembut: layanan terjemahan misa berbasis AI ke 60 bahasa. Inovasi ini bukan sekadar teknologi, melainkan jembatan agar umat dari berbagai negara bisa memahami liturgi tanpa merasa asing. Menariknya, jemaat tidak perlu mengunduh aplikasi apa pun. Cukup memindai QR code di pintu masuk, lalu ponsel akan menampilkan teks dan audio terjemahan secara real-time lewat browser. Langkah ini akan diluncurkan bertepatan dengan perayaan 400 tahun dedikasi Basilika Santo Petrus, momen yang sarat sejarah sekaligus simbol pembaruan. Karena itu, keputusan Vatikan terasa seperti pesan halus: iman tetap sama, tetapi cara melayani umat bisa mengikuti zaman, tanpa kehilangan ruhnya.
Cara Kerja QR Code yang Membuat Misa Lebih Mudah Dipahami
Bagi banyak wisatawan dan peziarah, misa di Vatikan sering menjadi pengalaman spiritual yang menggetarkan, tetapi juga membingungkan karena perbedaan bahasa. Karena itulah sistem baru ini terasa sangat relevan. Pengunjung cukup memindai QR code yang tersedia di pintu masuk Vatikan, lalu sistem langsung membuka halaman layanan terjemahan. Setelah itu, umat bisa memilih bahasa yang diinginkan, dan terjemahan akan berjalan secara real-time dalam bentuk teks maupun audio. Selain praktis, pendekatan berbasis browser membuat layanan ini terasa lebih ringan, karena tidak membebani memori ponsel. Sementara itu, penggunaan teknologi seperti ini juga membantu lansia atau pengunjung yang tidak terbiasa dengan aplikasi. Dengan kata lain, Vatikan memilih jalur yang sederhana namun efektif. Pada akhirnya, kemudahan ini memberi ruang bagi umat untuk lebih fokus pada doa, bukan sibuk menebak makna kata-kata liturgi.
“Baca Juga : Pesta Gas Tertawa Berujung Kebakaran, 5 Remaja Tewas di Apartemen Spanyol“
Teknologi “Lara” dan Ambisi Akurasi yang Tidak Sekadar Menyenangkan
Layanan terjemahan misa ini ditenagai AI bernama “Lara” yang dikembangkan perusahaan Translated. Namun yang membuatnya menarik bukan hanya jumlah bahasanya, melainkan filosofi di baliknya. CEO Translated menegaskan bahwa Lara dirancang untuk akurasi, bukan sekadar menghasilkan kalimat yang terdengar indah. Karena itu, sistem ini diklaim lebih tahan terhadap masalah “halusinasi AI”, yaitu kesalahan ketika AI menciptakan informasi yang tidak sesuai konteks. Selain itu, Lara menggunakan konteks yang lebih luas dibanding teknologi terjemahan generasi sebelumnya, sehingga makna liturgi bisa diterjemahkan dengan lebih tepat. Ini penting, karena kata-kata dalam misa bukan kalimat biasa, melainkan teks yang sarat nilai, tradisi, dan nuansa spiritual. Jadi, Vatikan tampaknya sadar bahwa kesalahan kecil pun bisa mengubah makna besar. Pada akhirnya, Lara menjadi contoh AI yang diarahkan untuk kehati-hatian, bukan sensasi.
Kerja Sama dengan Pionir AI yang Membuat Proyek Ini Terasa Serius
Vatikan tidak menjalankan proyek ini sendirian. Di balik layar, ada kerja sama dengan Carnegie-AI LLC serta Profesor Alexander Waibel, sosok yang dikenal sebagai pionir teknologi penerjemahan suara berbasis AI. Kolaborasi ini membuat layanan terjemahan misa terasa bukan sekadar “fitur tambahan”, melainkan sistem yang dibangun dengan standar ilmiah yang kuat. Selain itu, keterlibatan peneliti berpengalaman juga menunjukkan bahwa Vatikan memahami risiko teknologi, sehingga memilih bekerja dengan pihak yang kredibel. Sementara itu, Waibel menyebut proyek ini sebagai demonstrasi nyata bagaimana AI bisa membantu manusia saling memahami secara langsung. Pernyataan itu terasa tepat, karena misa bukan hanya ritual, tetapi juga ruang pertemuan manusia dari berbagai budaya. Dengan dukungan tim ahli, layanan ini berpeluang menjadi model baru untuk tempat ibadah lain di dunia. Pada akhirnya, proyek ini menunjukkan bahwa inovasi bisa tetap berakar pada keseriusan, bukan sekadar tren.
“Baca Juga : Gedung Hunian Ambruk di Lebanon, Setidaknya 15 Orang Tewas“
Basilika Santo Petrus dan Misi Universal yang Kini Punya Wajah Baru
Kardinal Mauro Gambetti, Imam Agung Basilika Santo Petrus sekaligus Vikaris Jenderal Kota Vatikan, menegaskan bahwa inovasi ini sejalan dengan misi Basilika yang selalu terbuka untuk semua bangsa. Selama berabad-abad, Basilika Santo Petrus menjadi titik temu umat Katolik dari berbagai bahasa dan latar belakang. Namun di era modern, keterbukaan itu tidak cukup hanya lewat pintu yang lebar. Karena itu, layanan terjemahan AI menjadi bentuk keramahan baru: membuat orang merasa diterima, bukan sekadar hadir sebagai tamu. Selain itu, alat bantu ini membantu umat memahami kata-kata liturgi, bukan hanya mengikuti ritmenya. Sementara itu, pemahaman sering kali menjadi pintu pertama menuju pengalaman spiritual yang lebih dalam. Dengan begitu, teknologi ini tidak menggantikan iman, melainkan memperluas jangkauan pesan. Pada akhirnya, universalitas Gereja terasa lebih nyata ketika bahasa tidak lagi menjadi dinding.
Antara Keterbukaan Teknologi dan Kewaspadaan yang Tetap Dijaga
Meski Vatikan merangkul AI, nada kehati-hatian tetap terdengar jelas. Hal ini penting, karena AI bukan teknologi netral yang selalu membawa dampak baik. Sebelumnya, Paus Leo XIV pernah mengingatkan bahwa AI menghadirkan tantangan serius dalam menjaga martabat manusia, keadilan, dan tenaga kerja. Karena itu, keputusan menghadirkan AI dalam misa terasa seperti langkah yang terukur, bukan euforia. Selain itu, penggunaan AI di sini ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti imam atau pengganti liturgi. Dengan cara itu, Vatikan tetap menjaga batas yang jelas antara teknologi dan sakralitas ibadah. Sementara itu, pesan moralnya cukup kuat: teknologi boleh masuk, tetapi harus melayani manusia, bukan menguasai manusia. Pada akhirnya, keseimbangan inilah yang membuat langkah Vatikan terasa unik, karena jarang ada institusi spiritual yang begitu terbuka namun tetap kritis dalam waktu bersamaan.