Inews Complex – Bahaya Asbes Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto menyinggung dampak material bangunan terhadap kesehatan. Dalam pidatonya saat peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Prabowo menyebut bahwa selain seng, asbes juga dapat menjadi sumber penyakit serius apabila partikelnya terhirup ke dalam paru-paru. Menurutnya, masyarakat perlu mulai beralih ke material atap yang lebih aman, ramah lingkungan, dan memiliki nilai estetika lebih baik seperti genteng, rumbia, atau ijuk. Pernyataan tersebut memicu diskusi luas karena asbes masih banyak digunakan pada bangunan rumah, gudang, hingga fasilitas industri di berbagai daerah. Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan lingkungan, isu penggunaan material bangunan kini menjadi perhatian penting yang tidak hanya menyangkut konstruksi, tetapi juga keselamatan masyarakat dalam jangka panjang.
Mengapa Asbes Dianggap Berbahaya bagi Paru-Paru?
Asbes merupakan material yang terdiri atas serat mineral alami dengan daya tahan tinggi terhadap panas dan korosi. Namun, ketika material ini mengalami kerusakan, dipotong, digergaji, atau mulai lapuk, serat-serat halusnya dapat terlepas ke udara. Serat tersebut hampir tidak terlihat oleh mata sehingga mudah terhirup tanpa disadari. Setelah masuk ke paru-paru, partikel asbes dapat menetap selama puluhan tahun dan memicu peradangan kronis. Kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi asbestosis, kanker paru, maupun mesothelioma, yaitu kanker agresif yang menyerang lapisan tipis di sekitar paru-paru. Yang membuat penyakit akibat asbes semakin berbahaya adalah gejalanya sering baru muncul 20 hingga 40 tahun setelah paparan pertama. Karena itu, banyak penderita baru mengetahui kondisinya ketika penyakit sudah memasuki tahap lanjut.
Baca Juga : Adik Kim Jong Un Kecam ASEAN, Peringatkan Asia Tenggara agar Tidak Menjadi “Corong” Amerika Serikat
Kementerian Kesehatan Tidak Merekomendasikan Penggunaan Asbes
Kementerian Kesehatan sebelumnya telah menyampaikan bahwa asbes termasuk dalam kategori bahan berbahaya dan beracun atau B3. Oleh sebab itu, pemerintah melalui berbagai kementerian telah melakukan koordinasi untuk mengurangi penggunaannya, terutama sebagai material atap rumah. Meski demikian, hingga saat ini belum ada larangan nasional yang sepenuhnya menghentikan peredaran maupun pemanfaatan asbes di Indonesia. Kondisi tersebut membuat material ini masih dapat ditemukan dengan mudah di pasar konstruksi. Di sisi lain, berbagai pakar kesehatan terus mengingatkan bahwa upaya pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan penyakit akibat paparan asbes. Edukasi kepada masyarakat juga dinilai penting agar setiap orang memahami risiko yang mungkin muncul ketika memasang, memperbaiki, atau membongkar bangunan yang masih menggunakan material tersebut.
Indonesia Masih Menjadi Pengguna Asbes dalam Jumlah Besar
Data yang dihimpun berbagai lembaga menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu importir asbes terbesar di kawasan Asia Tenggara. Volume impor diperkirakan mencapai sekitar 150.000 ton setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan industri konstruksi dan manufaktur. Tingginya penggunaan tersebut dipengaruhi oleh harga asbes yang relatif murah, ringan, serta mudah dipasang. Selain itu, material ini telah digunakan selama puluhan tahun sehingga masih menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat. Namun, seiring meningkatnya pengetahuan mengenai dampaknya terhadap kesehatan, berbagai organisasi kesehatan mulai mendorong penggunaan bahan pengganti yang lebih aman. Perubahan tersebut memang membutuhkan waktu karena berkaitan dengan biaya, ketersediaan produk alternatif, serta penyesuaian standar pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga :Takut Dilacak, Iran Tak Mau Rilis Rekaman Suara Mojtaba Khamenei
Material Bangunan Ramah Lingkungan Mulai Menjadi Pilihan
Dalam berbagai kesempatan, Prabowo mendorong penggunaan material bangunan yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Genteng berbahan tanah liat, rumbia, hingga ijuk disebut memiliki nilai estetika sekaligus mengurangi potensi paparan bahan berbahaya. Selain memberikan perlindungan terhadap cuaca, material alami tersebut juga dinilai mampu menjaga sirkulasi udara dengan lebih baik pada beberapa jenis bangunan. Perkembangan teknologi konstruksi juga menghadirkan berbagai alternatif modern yang memiliki daya tahan tinggi tanpa mengandung serat berbahaya seperti asbes. Dengan semakin banyaknya pilihan di pasar, masyarakat kini memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan aspek kesehatan sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam membangun rumah maupun fasilitas umum yang lebih aman.
Kesadaran Masyarakat Menjadi Kunci Mengurangi Risiko Paparan Asbes
Meningkatkan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting dalam mengurangi dampak penggunaan asbes di Indonesia. Banyak orang masih belum memahami bahwa risiko terbesar muncul ketika material tersebut rusak dan melepaskan serat halus ke udara. Oleh karena itu, proses renovasi atau pembongkaran bangunan yang mengandung asbes sebaiknya dilakukan dengan prosedur keselamatan yang tepat agar partikel tidak menyebar ke lingkungan sekitar. Selain itu, informasi mengenai bahaya asbes perlu terus disampaikan melalui edukasi publik sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak saat memilih material bangunan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, pelaku industri, dan masyarakat, penggunaan material yang lebih aman diharapkan semakin meningkat sehingga risiko penyakit akibat paparan asbes dapat ditekan pada masa mendatang.