Inews Complex – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki fase diplomasi yang menentukan. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa tuntutan Teheran harus dipenuhi sebelum konflik dapat diakhiri. Pernyataan tersebut muncul ketika sejumlah negara meningkatkan komunikasi untuk mencegah eskalasi baru di kawasan. Syarat Iran hentikan perang AS antara lain mencakup penghentian blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak. Sementara itu, Washington meminta perubahan pada aktivitas pengayaan nuklir Iran. Perbedaan tuntutan tersebut menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih menghadapi persoalan besar, meski jalur diplomasi tetap bergerak.
Syarat Iran Hentikan Perang AS Kembali Ditegaskan Khamenei
Mojtaba Khamenei kembali menegaskan posisi Teheran ketika bertemu Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Khamenei meminta kepentingan Iran tetap menjadi prioritas dalam upaya mengakhiri konflik. Ia juga menyinggung kondisi yang digambarkan sebagai situasi “bukan perang maupun damai”. Pernyataan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa Teheran belum berniat mengubah tuntutan utamanya hanya demi membuka perundingan. Namun, mempertahankan posisi awal juga berarti mediator harus bekerja lebih keras untuk menemukan titik temu yang dapat diterima kedua pihak.
Iran Ingin Blokade Pelabuhan Dihentikan
Salah satu tuntutan utama Teheran berkaitan dengan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran. Iran meminta langkah tersebut dihentikan sebagai bagian dari persyaratan menuju penyelesaian konflik. Blokade memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar pergerakan kapal karena perdagangan maritim berkaitan erat dengan perekonomian negara. Bagi Iran, persoalan ini juga menyentuh isu kedaulatan dan akses terhadap jalur perdagangan. Karena itu, penghentian blokade ditempatkan sebagai salah satu elemen penting dalam posisi negosiasi Teheran. Meski demikian, pemenuhan tuntutan tersebut tetap membutuhkan kesepakatan dengan Washington dan tidak dapat dipisahkan dari isu keamanan regional yang lebih luas.
Sanksi Ekspor Minyak Menjadi Bagian dari Tuntutan Teheran
Selain blokade, syarat Iran hentikan perang AS juga mencakup pencabutan sanksi Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Iran. Bagi Teheran, minyak tetap menjadi komoditas penting dalam hubungan ekonomi internasional. Karena itu, pembatasan ekspor mempunyai konsekuensi terhadap penerimaan negara dan ruang gerak ekonomi. Mohsen Rezaei sebelumnya juga menyebut beberapa tuntutan Iran telah disampaikan kepada Washington melalui mediator Qatar. Dalam pernyataan pada September 2026, ia menyebut penghentian perang di seluruh front, pembebasan dana Iran yang dibekukan, dan penghentian blokade laut sebagai bagian dari kondisi yang diajukan Teheran. Posisi tersebut memperlihatkan bahwa isu ekonomi dan keamanan saling berkaitan dalam negosiasi.
Washington Membawa Persoalan Nuklir ke Meja Perundingan
Amerika Serikat mempunyai tuntutan berbeda. Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya menyatakan Iran harus mengurangi tingkat pengayaan nuklir untuk mengakhiri perang. Persoalan nuklir telah lama menjadi salah satu titik perselisihan utama antara Teheran dan Washington. Iran menegaskan program nuklirnya bukan ditujukan untuk tujuan militer. Namun, Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat tetap menyampaikan kekhawatiran mengenai tingkat pengayaan uranium dan potensi penggunaannya. Dengan demikian, perundingan menghadapi persoalan mendasar. Iran menginginkan penyelesaian terhadap blokade dan sanksi, sementara Washington menempatkan pembatasan program nuklir sebagai bagian penting dari penyelesaian konflik.
Baca Juga: Gempa Kepulauan Sangihe Terbaru M 5,0, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Program Nuklir Belum Masuk Pembahasan dengan Negara Mediator
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa persoalan program nuklir tidak dibahas dalam pertemuan dengan pejabat dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada 26 Oktober. Menurut pejabat tersebut, pembicaraan mengenai isu nuklir belum akan dilakukan sampai tuntutan Iran terkait penghentian perang dipenuhi. Posisi ini memperlihatkan strategi negosiasi Teheran yang memisahkan tahapan pembicaraan. Iran tampaknya ingin memperoleh kemajuan pada isu konflik dan tekanan ekonomi sebelum membuka diskusi lebih jauh mengenai nuklir. Namun, strategi tersebut berhadapan dengan posisi Washington yang justru menjadikan pengayaan nuklir sebagai salah satu persoalan utama. Perbedaan urutan prioritas ini dapat menjadi hambatan dalam mencapai kompromi.
Diplomasi Regional Bergerak di Tengah Ketegangan
Pernyataan Khamenei muncul ketika aktivitas diplomatik meningkat di kawasan. Pejabat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan mengadakan pembicaraan di Teheran pada 26 Oktober. Menurut Reuters, pertemuan tersebut menjadi kontak tingkat tinggi pertama antara Iran dan ketiga negara itu sejak konflik berkembang lebih luas. Qatar juga tetap memainkan peran sebagai saluran komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat. Kehadiran sejumlah negara dalam proses diplomasi menunjukkan bahwa konflik tidak hanya menjadi persoalan bilateral Washington dan Teheran. Eskalasi dapat berdampak pada keamanan, perdagangan, energi, dan stabilitas kawasan sehingga negara-negara lain memiliki kepentingan besar untuk mencegah konflik semakin meluas.
Qatar Menjadi Salah Satu Jalur Komunikasi Penting
Qatar memiliki posisi penting karena tetap berkomunikasi dengan pihak-pihak yang terlibat. Pada September 2026, Mohsen Rezaei mengatakan bahwa persyaratan Iran untuk mengakhiri perang telah disampaikan kepada Washington melalui mediator Qatar. Teheran kemudian kembali menerima delegasi Qatar pada Oktober ketika upaya diplomasi semakin intensif. Peran mediator seperti ini penting ketika hubungan langsung antara pihak yang berkonflik sangat terbatas. Mediator dapat membawa proposal, memperjelas tuntutan, dan mencari kemungkinan kompromi tanpa mengharuskan kedua pihak langsung duduk dalam satu ruangan. Namun, keberadaan mediator tidak menjamin tercapainya kesepakatan. Keputusan akhir tetap bergantung pada kesediaan Iran dan Amerika Serikat untuk menyesuaikan posisi masing-masing.
Selat Hormuz Kembali Menjadi Persoalan Strategis
Pertemuan Khamenei dan Rezaei juga membahas Selat Hormuz. Jalur laut tersebut memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu koridor penting bagi perdagangan energi global. Iran menekankan kepentingannya untuk mempertahankan peran dalam pengelolaan selat tersebut. Sementara itu, Amerika Serikat mendorong pemulihan kebebasan pelayaran. Perbedaan mengenai Hormuz bukan sekadar persoalan simbolik. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memengaruhi pengiriman energi dan meningkatkan kekhawatiran pasar internasional. Oleh sebab itu, perkembangan di kawasan Teluk Persia selalu mendapat perhatian luas. Penyelesaian konflik yang berkelanjutan kemungkinan membutuhkan pengaturan keamanan maritim yang dapat mengurangi risiko konfrontasi baru.
Gencatan Senjata Sebelumnya Gagal Bertahan
Perselisihan mengenai Selat Hormuz juga berkaitan dengan runtuhnya gencatan senjata sebelumnya pada Juni 2026. Kondisi tersebut memberikan gambaran tentang rapuhnya kesepakatan ketika persoalan utama belum terselesaikan. Gencatan senjata dapat menghentikan pertempuran untuk sementara, tetapi perdamaian yang lebih stabil membutuhkan mekanisme yang dapat diterima pihak-pihak terkait. Dari sudut pandang diplomasi, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting. Kesepakatan berikutnya tidak cukup hanya menentukan penghentian serangan. Isu pelayaran, sanksi, program nuklir, dan mekanisme pengawasan juga berpotensi membutuhkan penyelesaian agar ketegangan tidak kembali meningkat.
Kemunculan Mojtaba Khamenei Mendapat Perhatian
Pernyataan terbaru Mojtaba Khamenei juga menarik perhatian karena ia belum tampil terbuka di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret 2026. Pertemuannya dengan Rezaei diumumkan melalui media pemerintah dan kantor pemimpin Iran. Sebelumnya, sejumlah pejabat Iran juga mengatakan telah bertemu Khamenei. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada 27 Oktober menyatakan dirinya bertemu Khamenei pada pekan sebelumnya dan mengatakan pemimpin tersebut tetap menjalankan urusan negara. Karena informasi mengenai aktivitasnya selama konflik relatif terbatas, pernyataan terbaru dari kantornya menjadi salah satu indikator mengenai posisi kepemimpinan Iran dalam proses diplomasi yang sedang berlangsung.
Pezeshkian Bergerak Melalui Jalur Diplomasi di Moskow
Pada saat yang sama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan pertemuan dengan sejumlah pemimpin di sela forum negara pengekspor gas di Moskow. Ia bertemu Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam pertemuan dengan Putin, Pezeshkian menyampaikan pandangan bahwa negara-negara kawasan seharusnya mampu menyelesaikan persoalan regional tanpa bergantung kepada Amerika Serikat. Pernyataan tersebut mencerminkan posisi politik pemerintah Iran, bukan konsensus seluruh negara di kawasan. Putin sendiri menyatakan telah membahas situasi Timur Tengah bersama Pezeshkian dan berharap perkembangannya bergerak ke arah positif. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa Iran menggunakan beberapa jalur diplomasi secara bersamaan.
Hubungan Iran dan Rusia Ikut Menjadi Sorotan
Pezeshkian juga menyinggung peluang memperluas hubungan Iran dan Rusia di bidang perdagangan, ilmu pengetahuan, industri, budaya, keamanan, hingga militer. Kerja sama kedua negara mendapat perhatian karena keduanya menghadapi sanksi Amerika Serikat dalam berbagai bentuk. Namun, hubungan Teheran dan Moskow memiliki kepentingan masing-masing sehingga tidak seluruh kebijakan keduanya selalu identik. Dalam konteks konflik saat ini, Rusia menjadi salah satu aktor yang memiliki komunikasi langsung dengan Iran sekaligus pengaruh diplomatik di tingkat internasional. Karena itu, pertemuan Putin dan Pezeshkian menjadi bagian dari rangkaian komunikasi yang lebih luas untuk membahas perkembangan kawasan.
Jalan Menuju Kesepakatan Masih Menghadapi Banyak Hambatan
Meski aktivitas diplomatik meningkat, jarak posisi Iran dan Amerika Serikat masih terlihat jelas. Syarat Iran hentikan perang AS berpusat pada penghentian blokade, sanksi, serta tuntutan lain yang telah disampaikan melalui mediator. Di sisi lain, Washington menuntut perubahan terhadap program pengayaan nuklir Iran. Selat Hormuz juga tetap menjadi titik perselisihan strategis. Kondisi tersebut membuat kesepakatan kemungkinan membutuhkan kompromi di beberapa bidang sekaligus. Namun, keberadaan Qatar dan keterlibatan Arab Saudi, Turki, Pakistan, China, serta aktor lain menunjukkan jalur komunikasi belum tertutup. Dalam konflik seperti ini, keberlanjutan komunikasi menjadi penting untuk mengurangi risiko salah perhitungan yang dapat memicu eskalasi.
Syarat Iran Hentikan Perang AS Menjadi Ujian Diplomasi Kawasan
Pada akhirnya, pernyataan Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Teheran belum melepaskan persyaratan yang telah ditetapkan untuk mengakhiri konflik. Syarat Iran hentikan perang AS kini menjadi bagian penting dalam diplomasi kawasan, sementara Washington tetap membawa persoalan nuklir sebagai tuntutan utama. Perbedaan tersebut membuat proses menuju perdamaian belum sederhana. Selat Hormuz, sanksi minyak, blokade pelabuhan, dan program nuklir membentuk rangkaian persoalan yang saling terhubung. Meski demikian, intensitas komunikasi melalui Qatar dan negara-negara regional menunjukkan masih terdapat ruang diplomasi. Hasil akhirnya akan bergantung pada kemampuan pihak-pihak terkait menemukan formula yang dapat mengurangi ketegangan tanpa mengabaikan kepentingan keamanan masing-masing.