Inews Complex – CFD Jakarta dua kali seminggu menjadi wacana baru yang sedang dikaji Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menilai penambahan Hari Bebas Kendaraan Bermotor dari Minggu menjadi Sabtu dan Minggu merupakan gagasan yang menarik. Salah satu pertimbangannya adalah potensi pengurangan emisi dari pembatasan kendaraan bermotor pada waktu tertentu. Namun, penerapannya tidak sesederhana menambahkan satu hari dalam jadwal. Aktivitas perkantoran, pertokoan, hotel, mobilitas pekerja, serta kondisi lalu lintas pada Sabtu perlu dihitung terlebih dahulu. Berbeda dengan Minggu, sebagian masyarakat Jakarta masih bekerja dan melakukan aktivitas ekonomi pada Sabtu. Karena itu, Pemprov DKI belum mengambil keputusan final. Kajian menjadi penting agar manfaat lingkungan dan ruang publik tetap dapat diperoleh tanpa menimbulkan gangguan besar terhadap mobilitas warga.
CFD Jakarta Dua Kali Seminggu Dinilai Menarik
Rano Karno memberikan respons positif terhadap gagasan penambahan jadwal CFD. Menurutnya, pembatasan kendaraan pada periode tertentu dapat memberikan dampak terhadap emisi. Namun, ia juga menekankan adanya sejumlah faktor yang harus dipertimbangkan. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Pemprov tidak ingin hanya melihat CFD sebagai kegiatan olahraga akhir pekan. Hari Bebas Kendaraan Bermotor juga berkaitan dengan kebijakan transportasi, lingkungan, ruang publik, serta aktivitas ekonomi. Jika frekuensinya ditambah, dampaknya akan menyentuh lebih banyak pengguna jalan. Karena itu, manfaat lingkungan perlu dibandingkan dengan konsekuensi terhadap mobilitas. Pendekatan semacam ini menjadi penting karena Jakarta memiliki pola perjalanan yang berbeda antara Sabtu dan Minggu.
Pelaksanaan pada Sabtu Menjadi Pertimbangan Utama
Perbedaan aktivitas Sabtu dan Minggu menjadi salah satu persoalan utama. Pada Minggu, kegiatan perkantoran relatif lebih sedikit sehingga pembatasan kendaraan dapat dilakukan dengan gangguan yang lebih terbatas. Situasinya berbeda pada Sabtu. Masih ada kantor, toko, hotel, pusat layanan, dan kegiatan usaha yang beroperasi. Sebagian pekerja juga tetap harus melakukan perjalanan pada pagi hari. Karena itu, penambahan CFD pada Sabtu berpotensi mengubah pola lalu lintas di kawasan sekitar. Kendaraan yang biasanya melewati ruas utama dapat berpindah ke jalan alternatif. Jika tidak diantisipasi, perpindahan tersebut justru dapat menambah kepadatan di titik lain. Inilah alasan kajian transportasi diperlukan sebelum jadwal baru diterapkan.
DPRD Mengusulkan Uji Coba Sebelum Diterapkan Permanen
Wacana CFD Sabtu-Minggu juga mendapatkan masukan dari DPRD DKI Jakarta. Ketua Fraksi PKS DPRD DKI M. Taufik Zoelkifli mengusulkan agar penambahan jadwal tidak langsung ditetapkan sebagai kebijakan permanen. Menurut usulan tersebut, Pemprov dapat melakukan uji coba selama sekitar dua hingga tiga bulan. Setelah itu, manfaat dan dampaknya dapat dievaluasi. Pendekatan uji coba memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk melihat kondisi nyata di lapangan. Data mengenai lalu lintas, kualitas udara, jumlah peserta, aktivitas usaha, dan respons masyarakat dapat dikumpulkan selama periode tersebut. Hasil evaluasi kemudian dapat digunakan sebagai dasar sebelum menentukan apakah jadwal tambahan layak dilanjutkan.
Baca Juga: Aksi Demonstrasi Digelar di Jakarta, Pengendara Diimbau Gunakan Rute Alternatif
Lokasi CFD Hari Sabtu Juga Masih Dikaji
Selain jadwal, lokasi menjadi persoalan penting. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menyebut kawasan Sudirman-Thamrin dan Rasuna Said sebagai dua titik yang perlu dipertimbangkan. Namun, apabila CFD tambahan diterapkan pada Sabtu, Pemprov tidak ingin langsung menutup kedua kawasan tersebut secara bersamaan. Salah satu lokasi dapat dipilih agar dampaknya terhadap aktivitas masyarakat lebih terkendali. Pertimbangan ini cukup masuk akal karena kedua kawasan mempunyai fungsi penting bagi mobilitas Jakarta. Sudirman-Thamrin menjadi koridor bisnis utama, sedangkan Rasuna Said juga dipenuhi perkantoran dan fasilitas komersial. Pemilihan lokasi akhirnya bukan hanya masalah menyediakan ruang olahraga. Akses menuju gedung, hotel, pertokoan, transportasi umum, serta jalan alternatif juga perlu diperhitungkan.
Pengurangan Emisi Menjadi Salah Satu Tujuan
Rano mengaitkan wacana CFD dengan upaya mengurangi emisi di Jakarta. Pembatasan kendaraan dalam suatu kawasan memang dapat menurunkan emisi langsung pada ruas yang ditutup selama periode tersebut. Namun, dampak terhadap kualitas udara secara keseluruhan perlu diukur melalui data. Kendaraan yang dialihkan ke jalan lain tetap menghasilkan emisi. Oleh sebab itu, evaluasi sebaiknya tidak hanya mengukur kondisi udara di area CFD. Perubahan lalu lintas pada kawasan sekitar juga perlu diperhatikan. Dari sisi kebijakan, hal ini membuat uji coba menjadi menarik. Pemerintah dapat membandingkan data sebelum, selama, dan setelah pelaksanaan. Dengan begitu, efektivitas CFD sebagai bagian dari strategi pengendalian emisi dapat dinilai secara lebih objektif.
Pemadaman Lampu Juga Pernah Digunakan untuk Kampanye Emisi
Dalam tanggapannya, Rano menyinggung program pemadaman lampu selama satu jam yang pernah dilakukan Jakarta. Kegiatan tersebut menjadi contoh langkah simbolis sekaligus kampanye untuk meningkatkan kesadaran mengenai konsumsi energi dan emisi. Rano melihat penambahan CFD dalam konteks upaya lingkungan yang lebih luas. Namun, kebijakan jangka panjang tentu membutuhkan evaluasi yang lebih terukur dibandingkan kegiatan simbolis. CFD mempunyai dampak langsung terhadap jalan, transportasi, aktivitas ekonomi, dan penggunaan ruang publik. Karena itu, data menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Jika penambahan jadwal benar-benar diuji coba, pemerintah memiliki kesempatan untuk mengukur manfaatnya dengan indikator yang lebih jelas.
Car Free Night Pernah Masuk dalam Gagasan Rano
Selain penambahan CFD, Rano juga pernah mengemukakan gagasan Car Free Night. Konsepnya mempunyai tujuan serupa, yakni menyediakan periode tertentu dengan pembatasan kendaraan pada kawasan yang dipilih. Namun, karakter lalu lintas malam hari berbeda dari pagi akhir pekan. Aktivitas restoran, pusat hiburan, hotel, dan transportasi publik justru dapat meningkat pada beberapa kawasan ketika malam. Karena itu, setiap konsep membutuhkan perencanaan tersendiri. Gagasan Car Free Night menunjukkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai pendekatan dalam mengelola ruang jalan dan emisi. Meski demikian, gagasan tersebut tidak berarti otomatis menjadi kebijakan. Kajian tetap diperlukan sebelum suatu skema diterapkan kepada masyarakat.
Durasi CFD Tambahan Belum Ditentukan
Waktu pelaksanaan CFD tambahan juga belum memiliki keputusan final. Rano menggambarkan bahwa pembatasan kendaraan hanya berlangsung selama beberapa jam sehingga secara teknis dapat dipertimbangkan. Namun, durasi tetap berpengaruh terhadap lalu lintas dan kegiatan masyarakat. CFD reguler sendiri memiliki jadwal yang berbeda pada beberapa kawasan Jakarta. Karena itu, apabila Sabtu ditambahkan, pemerintah perlu menentukan jam mulai dan berakhir berdasarkan karakter lokasi. Jadwal yang terlalu panjang dapat meningkatkan gangguan terhadap aktivitas ekonomi. Sebaliknya, durasi yang terlalu pendek mungkin membatasi manfaat ruang publik yang ingin diberikan. Penentuan waktu sebaiknya menggunakan data volume kendaraan dan pola aktivitas masyarakat pada akhir pekan.
Rekayasa Lalu Lintas Menjadi Bagian Penting
Jika CFD pada Sabtu diuji coba, rekayasa lalu lintas menjadi salah satu pekerjaan utama. Penutupan ruas tertentu akan membuat kendaraan mencari jalur alternatif. Pemerintah perlu memastikan jalan pengalihan mempunyai kapasitas yang memadai. Selain itu, akses menuju rumah sakit, hotel, gedung perkantoran, pusat usaha, dan fasilitas publik perlu tetap diperhatikan. Sosialisasi juga sebaiknya dilakukan sebelum uji coba dimulai. Pengendara yang mengetahui perubahan lebih awal dapat memilih rute atau waktu perjalanan berbeda. Menurut saya, faktor inilah yang akan menentukan penerimaan masyarakat. Manfaat CFD dapat lebih mudah dirasakan apabila warga tidak menghadapi kebingungan akibat perubahan lalu lintas yang mendadak.
Transportasi Umum Dapat Menjadi Bagian dari Evaluasi
Penambahan CFD juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat peran transportasi umum pada akhir pekan. Kawasan Sudirman-Thamrin memiliki akses MRT, TransJakarta, KRL, dan berbagai layanan pengumpan. Rasuna Said juga terhubung dengan jaringan transportasi publik. Jika akses kendaraan pribadi dibatasi, kemampuan angkutan umum menampung perubahan perjalanan menjadi penting. Pemerintah dapat mengamati apakah peserta CFD beralih menggunakan transportasi publik atau justru membawa kendaraan hingga mendekati kawasan penutupan. Pola tersebut dapat memberikan data tambahan mengenai perilaku perjalanan masyarakat. Dengan demikian, evaluasi CFD tidak hanya berhubungan dengan jumlah pengunjung, tetapi juga perubahan moda transportasi.
UMKM Berpotensi Mendapat Ruang Ekonomi Tambahan
DPRD DKI juga menyoroti potensi ekonomi apabila CFD berlangsung dua hari. Bertambahnya waktu masyarakat berada di ruang publik dapat membuka kesempatan bagi pelaku UMKM. Namun, aktivitas perdagangan dalam kawasan CFD tetap perlu mengikuti aturan yang berlaku. Pengaturan lokasi pedagang penting agar jalur olahraga dan pejalan kaki tidak terganggu. Selain itu, persoalan sampah perlu mendapatkan perhatian karena peningkatan jumlah pengunjung dapat meningkatkan volume limbah. Jika aspek tersebut dikelola dengan baik, CFD dapat berfungsi sebagai ruang sosial sekaligus memberikan aktivitas ekonomi tambahan. Akan tetapi, manfaat tersebut tetap perlu dibandingkan dengan dampak yang mungkin dialami usaha di gedung atau kawasan yang akses kendaraannya berubah.
Pemprov Belum Mengambil Keputusan Final
Sampai 23 September 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum menetapkan CFD Sabtu-Minggu sebagai kebijakan baru. Pramono Anung sebelumnya menyatakan tidak ingin mengambil keputusan secara terburu-buru. Pemprov masih mempelajari dampak terhadap masyarakat, lalu lintas, dan kegiatan di kawasan yang berpotensi menjadi lokasi CFD tambahan. Sikap serupa terlihat dari pernyataan Rano Karno. Ia melihat manfaat lingkungan dari gagasan tersebut, tetapi mengakui masih ada faktor yang perlu dihitung. Karena itu, informasi mengenai CFD dua kali sepekan sebaiknya dipahami sebagai wacana yang sedang dikaji. Jadwal reguler belum otomatis berubah sampai terdapat keputusan resmi dari pemerintah daerah.
CFD Dua Kali Sepekan Membutuhkan Evaluasi Terukur
CFD Jakarta dua kali seminggu memiliki potensi memperluas ruang olahraga, aktivitas sosial, serta upaya pengurangan emisi. Namun, penambahan jadwal pada Sabtu juga membawa tantangan yang berbeda dari Minggu. Aktivitas kerja, pergerakan kendaraan, akses usaha, rekayasa lalu lintas, serta kesiapan transportasi publik perlu dipertimbangkan secara bersamaan. Usulan uji coba selama beberapa bulan dapat memberikan data sebelum pemerintah membuat keputusan permanen. Dengan pendekatan tersebut, manfaat dan dampak negatif dapat dibandingkan secara lebih objektif. Pada akhirnya, keberhasilan CFD tambahan tidak hanya bergantung pada berapa banyak jalan yang bebas kendaraan. Kebijakan tersebut juga perlu menjaga keseimbangan antara lingkungan, mobilitas, ruang publik, dan aktivitas masyarakat Jakarta.